Belajar Dari Badiuzzaman Said Nursi

1960, beliau menghembuskan nafas yang terakhir, setelah melewati perjuangan yang sangat hebat. Hampir separuh usianya dihabiskan dalam penjara dan pengasingan.

Kalau saja ia berkompromi atau mau mundur selangkah dari prinsip, tentulah ia sudah mendapatkan jabatan dan tinggi dan harta yang banyak.

Tetapi beliau memilih untuk bertahan. Tidak pernah ada toleransi dalam kebatilan. Khamar tetap haram, walau dikonsumsi di kalangan pemerintah. Jilbab tetap wajib, walaupun ada pelarangan. Tauhid tetap harus tegak, walaupun kemusyrikan, kezindiqan, dan kemunafikan merajalela.

Banyak yang terganggu. Banyak yang tidak suka. Bahkan setelah ia meninggal dunia. Namun keteguhannya, keilmuannya, dan perhatiannya yg besar kepada agama, menjadi inspirasi sepanjang masa.

Rasail Nur yang ditulis dalam penjara dan pengasingan itu memberikan pencerahan. Tidak hanya di Turki, tapi sampai ke seluruh dunia. Tidak hanya saat ia hidup, tapi tetap bertahan puluhan tahun setelah ia meninggal. Tidak hanya dikaji dalam kelompok kecil, tetapi diangkat dalam banyak seminar Internasional.

Seminar Internasioal 16 Juli 2019

Teladan Keberanian dan Keteguhan Prinsip

Bila ingin mengambil sosok inspirasi dan teladan, maka pilihlah orang yang sudah meninggal dunia. Sebab mereka aman dari fitnah. Keseluruhan cerita hidup mereka sudah terhampar di hadapan mata sampai mereka berpulang ke hadirat Allah. Sementara orang yang masih hidup, masih mungkin berubah. Harapan yang diberikan terlalu besar, tapi ternyata sosok idola itu tidak sesuai harapan.

مَن كانَ مُسْتَنًّا ، فَلْيَسْتَنَّ بمن قد ماتَ ، فإنَّ الحيَّ لا تُؤمَنُ عليه الفِتْنَةُ

“Barang siapa yang ingin mengambil contoh teladan, maka ambillah dari orang yang sudah meninggal. Sebab orang yang masih hidup  tidak aman dari fitrnah”

Demikian pesan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud. Secara khusus, “orang yang sudah meninggal” yang beliu maksudkan dalam hadits itu adalah para sahabat Rasulullah. Dan sungguh mereka adalah teladan terbaik setelah Rasulullah.

Namun makna ungkapan ini sangat luas dan mencakup orang-orang mulia yang sampai akhir hidupnya mempertahankan kemuliaan dirinya.

Sementara orang-orang yang masih hidup, tidak ada yang punya jaminan selamat dari Su’ul Khatimah. Semua bisa berubah dari waktu ke waktu. Terutama dalam politik. Dimana yang menjadi panglima adalah kepentingan.

Maka tidak perlu kagum berlebihan dengan seseorang yang tampak keren dan hebat. Jangan terlalu banyak harapan. Doakan semoga ia tetap istiqamah dan Husnul Khatimah, dan berharaplah hanya kepada Allah semata.

Setelah membaca dan mengkaji perjalanan kehidupan Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960), saya mendapatkan banyak sisi kehidupan beliau yang perlu diteladani, dan pemikiran beliau yang perlu untuk dikaji dan didalami.

Seminar Internasional

Alhamdulillah saya bisa ikut berpartisipasi untuk kali yang ketiga. Dua kali saya ikut di Istanbul.

Untuk yang ketiga ini saya diminta untuk menjadi pembicara dalam Seminar Internasional Badiuzzaman Said Nursi di UIN Jakarta, tgl 16 Juli 2019. 

 

Untuk tahun ini, seminar Internasional ini dilakukan tiga hari berturut turut.

15 Juli 2019 di INSIST

16 Juli 2019 di UIN Syarif Hidayatullah :

17 Juli 2019 di Pondok Pesantren Darun Najah

 

Seminar Internasional 15 Juli 2019

Seminar seminar ini sesungguhnya kegiatan baca dan kaji buku Rasail Nur dalam level internasional.

kegiatan baca buku ini sudah diadakan dalam kelompok kelompok pengajian Rasail Nur di berbagai negara di dunia. Saya pernah ikut kajiannya di Indonesia, Turki, Mekah, dan Madinah.

Pembicara utama dalam ketiga seminar ini adalah tiga guru besar dari Turki yang merupakan Thullabunnur atau murid yang mengkaji Rasail Nur secara mendalam. Ketiga guru besar tersebut adalah:

Prof.Alparslan Acikgenc
Prof. Dr. Ahmet Kayacik
Dr. Osman Yapar

Alhamdulillah bersyukur bisa berkenalan dengan belajar dari para guru dan thullabunnur.

Insya Allah saya bisa bercerita pelajaran yang bisa saya dapatkan saat pertemuan nanti.

Leave A Reply

Navigate