Berkah Ketaatan

Imam Ad Dzahabi menuturkan kisah menakjubkan ini dalam kitab beliau Siyar min A’lam An Nubala (Biografi ulama ulama brilian), dalam biografi Imam Rabi’ah bin Abdirrahman

Alkisah saat itu, panggilan jihad berkumandang. Seorang suami bernama Farukh atau dikenal dengan panggilan Abu Abdirrahman menemui istrinya yang sedang hamil. Dengan berat hati ia harus meninggalkan istri dan jabang bayi yang masih berada dalam kandungan.

Sang istri pun terisak, karena mungkin anak yang dikandungnya tidak akan pernah melihat wajah ayahnya, mengingat resiko perang yang taruhannya adalah nyawa.

Untuk keperluan hidup keluarga dan bekal untuk membesarkan anaknya, Farukh meninggalkan uang sebesar 30.000 dinar. Lalu kedua suami istri pun berpisah dan entah kapan bisa bertemu kembali.

Hari pun berganti hari. Tidak terasa telah berlalu 27 tahun.

anak anak penghafal al quran

Suatu sore,seorang tua yang terlihat seperti musafir yang baru melakukan perjalanan jauh segera memacu kudanya ke arah sebuah rumah di kota Madinah. Di depan sebuah rumah ia berhenti. Masih dengan anak panah yang ada dalam genggamannya ia mengetuk pintu rumah itu. Karena merasa terganggu, seorang anak muda langsung keluar dari dalam rumah.

“Ada perlu apa pak? Kenapa mengetuk-ngetuk pintu rumah orang dengan kasar?” kata anak muda.

“Kamu siapa? Ini rumahku. Berani-beraninya kamu masuk ke rumah orang tanpa izin” jawab orang tua dengan marah.

Adu mulut itu tidak berlangsung lama. Orang tua tadi menarik tangan anak muda itu keluar dari rumah, sementara anak muda itu bertahan tidak mengizinkan orang tidak dikenal itu masuk.

Maka mereka pun bergulat dan terjadi perkelahian singkat.

Orang-orang banyak datang berkumpul. Termasuk diantara mereka Imam ahli Madinah, Imam Malik bin Anas.

“Maaf bapak siapa?” kata Imam Malik “Carilah rumah lain. Mungkin bapak salah masuk rumah. Ini rumah guru kami Imam Rabi’ah”

“Tidak! Ini rumah saya. Saya Farukh Abu Abdirrahman” kata orang tua itu dengan tegas.

Mendengar nama itu terucap, seorang perempuan bergegas keluar rumah.

“Benarkah engkau Abi Abdirrahman, suamiku?”

Semua mata takjub memandang kepada kedua suami istri yang telah terpisah sekian lama itu.

“Bapak-bapak dan ibu semua… Ini adalah suamiku, Farukh Abu Abdirrahman, dan inilah anakku, Rabi’ah”

Lalu mereka pun berpeluk-pelukan, penuh haru dan juga bahagia.

Karena hari menjelang maghrib, Rabi’ah segera pamit kepada bapak dan ibunya menuju Masjid Nabawi, sementara kedua suami istri masuk ke dalam rumah.

Sejurus kemudian setelah larut dalam obrolan penuh kerinduan, Farukh bertanya, “Apa kabar uang 30.000 dinar yang aku titipkan kepadamu dulu?”

“Aku simpan di suatu tempat. Perlu beberapa hari untuk menghadirkannya di sini” jawab istrinya dengan cepat.

“Sekarang kamu berangkatlah dulu ke masjid nabawi untuk menunaikan shalat maghrib”

Farukh segera bersiap lalu berangkat. Jalanan ramai. Imam Malik bin Anas dan masyarakat kota Madinah berbondong-bondong ke Masjid. Selain untuk melaksanakan shalat maghrib, mereka ingin menghadiri pengajian yang akan diisi oleh seorang ulama terkenal di kota Madinah.

Seusai shalat, semua orang berkerumun pada satu orang. Merasa penasaran, Farukh berusaha untuk maju mendekat dan melihat langsung wajah sang guru itu. Matanya terbelalak dan dadanya berdegup kencang setelah tau bahwa yang mengisi pengajian malam itu adalah putra, Rabi’ah.

Ia segera kembali ke rumah seusai shalat Isya dan langsung menemui istrinya.

“Demi Allah, istriku, Allah telah memberikan karunia yang sangat besar kepada kita. Anak kita telah menjadi seorang ulama yang hebat” kata Farukh.

“Mana yang engkau sukai, uang 30.000 dinar itu atau kemuliaan ilmu yang kita dapatkan saat ini?” Tanya istrinya

“Tentu aku lebih suka kemuliaan ilmu”

“Ketahuilah, seluruh uang yang engkau berikan dulu telah aku gunakan untuk membesarkan dan membiayai seluruh pendidikan anak kita dengan sebaik-baiknya”

Kisah ini memberikan banyak pelajaran berharga kepada kita semua tentang berkah ketaatan kepada Allah.

Tentang seorang suami yang penuh ketaatan memenuhi panggilan untuk membela agama Allah saat turun kewajiban tentang hal itu;

Tentang seorang istri yang setia kepada suaminya dan bekerja kerja mendidik anaknya dengan baik.

Tentang sebuah keluarga yang mencintai ilmu, sehingga Allah memuliakan mereka dengan hadirnya seorang ulama ternama di tengah keluarga tersebut.

Knowladge is Power. Ilmu adalah kekuatan. Dan dengan kekuatan itu kita dapat meraih banyak kemuliaan

Leave A Reply

Navigate