Kesaksian Air Mata

Engkau pernah menangis di usia sebesar ini?
Hehehe…

Saya pernah.
Kapan? Dulu.
Berkali-kali.
Bahkan sampai saat ini.

Saya masih teringat, di hadapan Syekh Izzat saya berkali-kali bercucuran air mata.
Kenapa? Karena hafalan saya tidak lancar. Sehingga dihentikan di tengah halaman dan tidak boleh melanjutkan.

Padahal rasanya saya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi ternyata belum. Perasaan saja sudah berusaha, padahal belum maksimal. Maka di hadapan Syekh Izzat, baru ditegur sekali hafalan langsung buyar.

Tetapi dengan itu, Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan hafalan Al Qur’an.

Waktu belajar Bahasa Arab pun begitu. Kok rasanya sulit sekali baca kitab kuning tanpa harakat itu. Untuk baca satu kalimat tanpa salah, saya harus belajar kaedah nahwu, Sharaf, dan melihat kamus Bahasa Arab.

Belum lagi harus bercakap cakap. Apalagi kalau disuruh pidato. Duh, saya semakin mengecil. Dan tak berdaya.

Habib Saqqaf dan Aba adalah guru terbaik dalam hal ini.

Dari belajar Bahasa Arab akhirnya mengantarkan saya ke Mesir.

Ternyata Bahasa Arabnya tidak terpakai. Orang Mesir ngomongnya pakai Bahasa Ammiyah. Itu sudah seperti bahasa tersendiri. Saya jadi merasa sia sia belajar Bahasa Arab dulu. Saya tidak paham mereka ngomong apa. Saya benar benar menangis.

Ternyata tidak perlu waktu lama untuk belajar Bahasa Ammiyah itu saat sudah punya modal Bahasa Arab. Ternyata jauh lebih gampang. Dan kini saya bisa dengan pede ngobrol dengan orang Mesir, dengan bahasa Ammiyah paling kacau sekali pun.

Dan dengan ilmu bahasa Arab saya jadi mudah mengkaji kitab kitab ulama dan mudah dalam berkomunikasi dengan para guru

Empat kali saya S2. Bukan keren. Tapi karena gak lulus lulus. Makanya pindah pindah. Selesainya baru di UMS Surakarta. Itu juga diiringi oleh air mata.

Dalam perjalanan hidup, ada banyak yang menumpahkan air mata. Saat berpisah dengan umi dan adik adik tercinta, setiap kali datang dan pergi meninggalkan kampung halaman, setiap kali anak dan istri sakit, setiap kali ada musibah yang menimpa, ada saja air mata yang keluar.

Dan kini, di hadapan saya masih terbentang banyak harapan dan cita-cita, yang mungkin banyak menguras pikiran, perasaan dan juga air mata. Saya tidak peduli.

Saya jadi paham, air mata itu bukanlah tanda kelemahan. Tapi saat mengistirahatkan akal dan perasaan. Untuk kemudian melangkah dengan jauh lebih kuat dan lebih jauh lagi.

Engkau pernah menangis?
Saya juga. Berkali-kali..
Sejak dulu, sampai saat ini

========
Ssst….
Lagi ujian proposal disertasi…. 🙂

Leave A Reply

Navigate