Bukan Dunia Kata-Kata

Dalam ungkapan yang sangat singkat Rasulullah Saw. dapat menyampaikan kepada kita nasehat yang berharga dan dalam maknanya. Kali ini beliau mengingatkan kepada kita tentang manajemen hati dalam menuntut ilmu, agar tak sia-sia segala waktu yang kita gunakan untuk belajar dalam waktu yang lama.

Menghitung Waktu Belajar

Suasana Belajar di Kuttab

Bila kita menghitung waktu belajar formal dari tingkat SD sampai selesai S1 perguruan tinggi, maka waktu yang gunakan paling kurang 16 tahun. Belum ditambah dengan pendidikan formal S2 dan S3. Walaupun pada hakekatnya manusia adalah makhluk pembelajar selama hidupnya. Waktu belajar terus berlangsung sampai hembusan nafas yang terakhir.

Lalu untuk apa kita belajar selama itu?

Rasulullah sudah mengingatkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي النَّارِ. حديث حسن رواه ابن ماجه

“Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Muhammad Saw. beliau berkata, “Siapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, atau membangga-banggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk menarik perhatian orang lain, maka tempatnya adalah neraka” (HR. Ibnu Mâjah).

Alangkah ruginya bila segala usaha dan pengorbanan bertahun-tahun lama-lamanya ternyata hanya akan berujung di neraka akibat kurangnya manajemen hati dalam pendidikan.

***

Tidak Untuk Hal Ini

Dalam hadits ini Rasulullah Saw. menyampaikan tiga kecenderungan hati yang mendasari seseorang dalam belajar: yaitu agar pandai berdebat, mengesankan diri sebagai ilmuan, dan menarik perhatian orang. Ketiga hal ini dapat membuat ilmu tidak bermanfaat.

Ini memang sulit. Sebab salah satu tabiat manusia adalah adanya perasaan senang diperhatikan, senang dipuji, ingin mengesankan dirinya sebagai orang hebat. Kesungguhan yang ia tunjukan dalam belajar adalah untuk mendapatkan kepuasan pribadi, memperoleh ketenaran, mengejar posisi, dan jabatan.

Betapa piawai ia merangkai kata, terampil menggunakan istilah, menyihir para pendengarnya saat ia berbicara, terpukau orang lain dibuatnya. Dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta perkataan para ulama keluar dengan lancar dari kedua bibirnya, memberikan pencerahan bagi setiap yang mendengarnya.

Tapi bukan untuk pencerahan itu ia berbicara. Bukan untuk menyampaikan anjuran kebaikan, mengajak orang mengingat Allah selalu dan mensyukuri nikmat-Nya. Namun ia berbicara agar orang lain tau bahwa ia itu hebat, ia pandai, cerdas, dalam ilmunya dan pantas mendapatkankan tempat yang terhormat di sisi mereka. Ia mengharapkan pujian. Ia merindukan sanjungan. Mungkin ia mendapatkan apa yang ia idam-idamkan. Ia menjadi tampak luar biasa. Ia bahagia dan puas dengan segala pujian dan sanjungan itu.

Ia juga belajar agar dapat mendebat orang-orang bodoh untuk mendapatkan kemenangan dari mereka. Ia ingin membangga-banggakan diri di hadapan para ulama sebagai seorang intelektual, punya wawasan yang luas, pengetahuan yang mendalam dan pendapat yang bijaksana. Ia gunakan ilmu-ilmu itu sebesar-besarnya untuk menarik perhatian orang lain.

Lalu dari sini timbullah perasaan merasa hebat, merasa jago, merasa lebih dari orang lain. Di hatinya menyelinap perasaan ujub dan bangga diri. Ia memang pantas menerima segala pujian itu. Ia merasa dirinya bertabur kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Lalu pada gilirannya sedikit demi sedikit timbullah perasaan sombong dan tinggi hati; menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain (batharul haqq wa ghamthunnaas).

Namun ketika ia tidak mendapatkan pujian yang ia harapkan, maka ia merasa kecewa dan tidak berharga. Ia sedih karena merasa apa yang ia lakukan menjadi sia-sia. Mungkin ada keinginan untuk memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik. Tapi orientasinya tetap sama; agar orang lain bisa memuji hasil karyanya.

Medan Kata-kata

Suasana Belajar Mengajar di Kelas

Lebih buruk lagi ketika menjadi pendidik, ia mendidik orang lain dengan apa yang ia yakini. Menanamkan sifat riya kepada anak didik sejak dini. Mendidik mereka untuk menjadi orang-orang yang sok tahu, sok mantap, percaya diri dosis tinggi sehingga tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Menekankan bahwa hanya pendapatnya ini saja yang benar, sementara pendapat orang lain salah total. Lahirlah generasi yang pandai bicara tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya pandai mengkritik tapi tidak sanggup untuk melakukan hal yang serupa.

Medan amal sungguh jauh berbeda dengan medan kata-kata. Bagaimanapun orang yang banyak berbuat lebih baik dari orang yang banyak berteori. Sudah saatnya kita mengamalkan apa yang kita ketahui. Dunia mimpi dan idealisme akan selamanya berada di alam hayal dan tidak akan pernah berujung selama kita tidak mau melakukan sesuatu. Ketika kita mati, hanya ilmu yang bermanfaatlah yang akan terus mengalir pahalanya. Yaitu ilmu yang diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.

Disinilah letak perjuangan itu. Yaitu bagaimana mengarahkan jiwa untuk tetap mengharapkan ridha Allah dalam ketika belajar, ketika mendidik, ketika melakukan setiap tindak laku dan perbuatan. 

Kembali Kepada Tujuan

Suasana Belajar di Kuttab

Beribadah kepada Allah, itulah tujuan utama kita hadir di dunia. Tanpa ibadah, kita hanya akan menjadi seonggok benda yang tak berguna. Segala apa yang kita miliki sudah seharusnya menjadi sarana meningkatkan ibadah itu. Termasuk pengetahuan dan informasi yang kita peroleh, tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas amal, tidak semata-mata sebagai koleksi kekayaan intelektul.

Dalam hadist shahih riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa orang yang paling  pedih azabnya hari kiamat adalah seorang ilmuan dan ‘alim, namun Allah tidak menjadikannya ilmunya bermanfaat, Ia hanya menjadi kolektor informasi untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

 

Leave A Reply

Navigate