Kekuatan Kasih Sayang

Suatu Hari di Masjid Nabawi

masjid nabawi )http://islamic-images.org/)

Sejak kedatangan Rasulullah Saw. di Madinah, mesjid mempunya fungsi yang sangat besar bagi kaum muslimin. Tidak sekedar sebagai tempat shalat, tapi juga sebagai tempat belajar, mengumpulkan pasukan, dan mengatur strategi perang. Maka mesjid pun selalu ramai oleh para sahabat.

Suatu ketika, Rasulullah Saw. bersama para sahabat sedang berkumpul di Mesjid.

Tiba-tiba datanglah seorang badui dan langsung…  sreeeeeettttt…….

Ia kencing di mesjid….!

Para sahabat langsung menghardiknya bahkan ada yang ingin memukulnya

“Biarkan ia!” ujar Rasulullah Saw. dari jauh. Mereka pun membiarkannya sampai ia menyelesaikan buang air kecilnya.

Setelah itu Rasulullah kemudian memanggilnya seraya memberikan nasehat,

“Sesungguhnya mesjid ini tidak boleh terkena sedikitpun dari air kencing ini atau kotoran lainnya. Sesungguhnya ia digunakan untuk mengingat Allah Swt., shalat dan membaca Al-Qur’an” ujar beliau dengan lembut. Rasulullah lalu memerintahkan seorang sahabat yang ada untuk membawa seember air dan menyiramkannya ke atas kencing tersebut.

Demi Allah, ini adalah peristiwa yang sangat jarang. Orang yang paling penyabar sekalipun dalam kondisi seperti ini paling tidak akan memerintahkannya untuk menghentikan buar air kecilnya. Cukup sudah dia melakukannya di mesjid Rasulullah. Para sahabat saja yang sudah terkenal kesabaran dan kemuliaan akhlak mereka ini ingin berdiri dan melakukan sesuatu. Namun Rasulullah Saw. melakukan sesuatu yang belum pernah di lakukan oleh orang-orang sebelumnya dan sesudahnya.

Beliau mampu menyelesaikan permasalahan dengan bijak. Beliau selalu membawa keberuntungan bagi siapa pun, menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Kasih Sayang Yang Menakjubkan

Sebuah fakta menarik yang pernah diungkapkan oleh Konrad Zeits; Pusat Studi dan Kajian Strategis Uni Emirat Arab tahun 2003. Yaitu tentang Mao Tse Tsung.  Penguasa Cina, Mao Tse Tsung (1893-1976 M) telah berubah menjadi seperti tuhan di mata rakyatnya. Ucapannya disucikan dan perintahnya tak perah ditolak. Namun apa yang hasilnya?

Hasilnya adalah Mao Tse Tsung menjadi seorang pembunuh terbesar di abad dua puluh. Dia bertanggung jawab atas kematian 30 sampai 40 juta rakyat selama masa pemerintahannya karena tuduhan pelanggaran mereka terhadap pemikiran dan sikap politiknya.

Itulah keadaan mereka namun Islam adalah sesuatu yang berbeda.

Suatu kali Anas bin Malik dan beberapa sahabat lainnya pernah berjalan bersama Rasulullah Saw.. Ketika itu beliau memakai sebuah selendang najran yang sisinya kasar. Tiba-tiba beliau bertemu dengan seorang badui dan menarik selendang itu dengan keras, sampai Anas melihat ada bekasnya di leher Nabi Saw. karena saking kerasnya tarikan itu.

“Hai Muhammad, berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu” ujar orang Badui itu dengan kasar.

Rasulullah memandang kepadanya sambil tersenyum, lalu merintahkan para sahabat untuk memberinya sesuatu.

Pada waktu lainnya ada seorang laki-laki yang menagih utang dengan kasar kepada Rasulullah, sehingga para sahabat marah.

“Biarkanlah dia karena si pemilik hak diizinkan untuk berkata-kata” kata Rasulullah.

Kemudian beliau melanjutkan, “Berikanlah kepadanya onta yang seumur dengan ontanya”.”Wahai Rasulullah, yang ada hanya yang lebih tua” jawab para sahabat.

“Berikan saja itu padanya. Sesungguhnya orang yang terbaik diantara kamu adalah orang yang terbaik dalam membayar utang” kata Rasulullah Saw. Sang Penyayang.

Beliaulah sang pemimpin yang sangat penyayang, suka memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Beliau benar-benar menjadi teladan yang hebat bagi semua.

Inilah Rasul Sang Penyayang

mesjid nabawi

Keindahan akhlak Rasulullah sungguh sangat menakjubkan. Dialah Sang Bulan Purnama yang muncul di tengah-tengah perbukitan Tsaniatil Wada’,  memancarkan cahaya yang terang benderang ke seluruh dunia, menutup risalah kenabian para pendahulunya, mengajarkan akhlak yang mulia dan sempurna melalui kemilau kepribadiannya.

Dengan sikapnya, beliau mengajarkan umat manusia untuk memahami dan mengerti hakikat seorang hamba di hadapan Tuhannya, mengajarkan mereka sikap rendah hati, adil, dan kasih sayang kepada sesama.

Tak pernah ada satu detik pun yang sia-sia. Tak ada kata-kata atau gerak yang terbuang percuma. Seluruh kehidupan beliau berisi pelajaran, menjadi hadits dan atsar, menjadi kisah dan hikmah bagi manusia-manusia yang lainnya. Beliau berdakwah dengan kelembutan, penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.

Sungguh dalam kelembutan ada kekuatan yang tidak dapat kita raih ketika kita melakukan kekerasan. Kelembutan sikap dan kasih sayang adalah bagian kebijaksanaan. Namun sikap lembut beliau tidak menghalangi beliau untuk teguh dalam memperjuangkan agama Allah.

Kita perlu berhati-hati dan jangan tergoda. Tegas tidak berarti kasar. Berani tidak berarti nekat. Perhatian tidak berarti curiga. Waspada tidak berarti buruk sangka. Tawakkal berarti malas. Lembut tidak berarti pengecut. Kadang-kadang kita masih bersembunyi dan mengatasnamakan sifat yang baik untuk menyembunyikan sifat buruk, mengatasnamakan ketegasan di balik kekasaran, atas nama tawakkal di balik kemalasan.

Kehidupan Rasul penuh dengan kisah kebajikan dan kebijaksanaan. Dihiasai oleh keindahan budi, terbebas dari keburukan pekerti. Membaca dan mengamalkan sirah hidup beliau adalah cara tercepat untuk meraih pribadi yang hebat di hadapan Allah dan semua manusia. Menarik untuk diikuti, membesarkan hati untuk melakukan yang terbaik.

Saat Allah memberikan kita kemampuan untuk berkata dan bersikap yang tepat di tempat yang tepat, itulah tandanya kita telah diberikan kebaikan yang banyak. Kepada bunda Aisyah radhiallahu anha, beliau pernah berpesan:

«يَا عَائِشَةُ ارْفُقِي فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ قَطُّ، إِلَّا شَانَهُ» رواه أبو دود

 “Wahai A’isyah, berlemah lembutlah. Sesungguhnya setiap kelembutan yang menempel pada sesuatu, maka ia pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali ia akan membuatnya buruk” (HR. Abu Daud)

 

Leave A Reply

Navigate