Angkatan Muda Generasi Adab

 

Sesungguhnya Aku hanya Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak Yang Mulia” Dari awal Rasulullah sudah menegaskan tentang target dalam misi kerasulan yang dibawa oleh beliau, yaitu menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia. Berawal dari iqra, berjuang meninggikan kalimat tauhid, lalu berakhir dengan keindahan akhlak dan peradaban yang tinggi, begitulah Rasulullah menjalankan misinya.

Rasulullah memang sangat menakjubkan.

Generasi yang hidup bersama beliau, dari bayi sampai orang tua, menjadi orang-orang yang hebat dan berpengaruh dalam peradaban umat manusia.

Melihat keadaan adab dan remaja kita pada saat ini, sudah seharusnya kita kembali meneliti langkah dan strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam memperbaiki kondisi masyarakatnya. Dengan bimbingan wahyu, Rasulullah telah melakukan langkah-langkah yang manusiawi dan rasional. Bahkan dalam pendekatan pendidikan modern, apa yang dulu telah dilakukan oleh Rasululullah terbukti menjadi sebuah terobosan yang hebat dalam pendikan.

Banyak ulama yang meneliti strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam memperbaiki kondisi masyarakat jahiliyah dan menjadikan mereka masyarakat yang beradab. Salah satunya adalah Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya, Tarbiyatul Aulad fil Islam.

halaqah tahfiz

Dan ternyata, inilah strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mencetak angkatan muda generasi adab dari kalangan para sahabat, sebagaimana dipaparkan oleh Dr Nashih Ulwan dalam kitab tersebut.

  1. Mendidik Dengan Keteladanan

Kita merasakan atau tidak, sesungguhnya anak-anak kita selalu memperhatikan kita dengan saksama. Anak hanya meniru apa yang ia lihat di sekelilingnya. Baginya, orang tua adalah contoh terbaik bagaimana caranya hidup. Dia pun ingin eksis, sebagaimana orang lain.

Tontonan yang menggugah harga dirinya untuk diperhatikan dan dihargai oleh orang lain, akan menjadi inspirasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Teladan adalah metode pendidikan yang sangat berpengaruh dalam hal akhlak, psikologis, dan sosial. Bila orang tua dan pendidiknya jujur, terpercaya, pemurah, dan pemberani, maka anak akan tumbuh dengan kejujuran, sifat amanah, pemurah, dan keberanian.

Sementara bila orang tua dan pendidikanya suka berbohong, berkhianat, bakhil, dan pengecut, maka sang anak pun akan tumbuh dalam kebohongan, penghianatan, kebakhilan, dan kepengecutan.

Rasulullah hadir dengan segala pesona keindahan akhlaknya jauh sebelum mendapatkan risalah kenabian. Teladan akhlaknya termasyhur di seluruh penjuru kota Makkah.

Maka keagungan sistem dan konsep Islam dalam akhlak, diterjemahkan dengan indah dalam akhlak Rasulullah. Beliau adalah perwujudan nyata konsep adab dalam wahyu. Sehingga wujud nyata isi wahyu dapat dilihat langsung secara visual dalam pribadi Rasulullah.

Karena anak menjadi peniru yang paling jitu dan suka melakukan sesuatu dengan spontan, maka muncullah pepatah, “Al Waladu Sirru Abawaihi” Anak adalah rahasia kedua orang tua. Kebiasaan orang tua yang tidak dilihat banyak orang tampak dengan jelas dari perilaku dan kebiasaan anak.

Rasulullah adalah teladan dalam ibadah. Sebelum beliau menyuruh orang lain melaksanakan shalat, beliau sendiri sangat menjaga shalat. Tidak hanya 5 shalat waktu, tetapi juga shalat sunnah, sampai kaki beliau membengkak karena lama berdiri shalat tahajjud.

Beliau menyuruh untuk memberi, beliau sendiri sangat dermawan. Beliau menyuruh untuk rendah hati, beliau sendiri adalah seorang yang sangat tawadhu. Beliau juga mendidik generasi qudwah. Ayyuqtadaitum ihtadaitum. Kepada siapa saja yang kalian ikuti, kalian akan mendapatkan petunjuk. Itu kata Rasulullah tentang para sahabatnya.

Orang tua yang menjadi qudwah akan lebih memiliki wibawa di dalam perintah-perintahnya. Sebaliknya, seribu peringatan bapak untuk tidak merokok, hanya akan menjadi sia-sia ketika anak mendapatkan peringatan itu dalam keadaan merokok. Kata-katanya menjadi tidak berarti sama sekali.

Keteladananlah yang membuat kata-kata memiliki kekuatan,

  1. Mendidik Dengan Kebiasaan

Pada dasarnya, anak-anak terlahir dalam keadaan suci dan bersih. Secara fitrah, ia mudah menerima kebaikan. Usaha install kebaikan akan lebih mudah melalui proses kebiasaan. Anak yang tumbuh dan besar dengan tauhid yang benar dan adab-adab yang mulia, tanpa terasa telah memiliki kemulian kemuliaan adab itu seiring berjalannya waktu.

Setiap anak dalam keadaan fitrah. Pendidikan dan lingkungannyalah yang akan mengubahnya menjadi baik atau buruk.

Kondisi lingkungan akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak. Apabila ia mendapatkan lingkungan yang baik, ia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Tetapi bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka yang anak menjadi anak yang buruk.

Tentang pembiasaan kebaikan ini,  Imam Al Ghazali menekankan dalam kitab Ihya Ulumiddin, “Anak adalah amanah bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal. Apabila ia dibiasakan dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh di atasnya. Ia akan bahagia dunia dan akhirat. Tetapi bila ia dibiasakan dengan keburukan dan membiarkannya melakukan perbuatan buruk itu, maka ia akan sengsara dan celaka. Cara menjaganya adalah dengan mendidik, melatih, dan mengajarkannya akhlak-akhlak yang mulia”

Ibnu Sina pun mengatakan hal yang sama. Diantara pesannya tentang pendidikan anak, “Untuk kesuksesan pendidikan seorang anak kecil, hendaklah bersama anak ada teman temannya yang baik adabnya dan terpuji kebiasannya. Sebab seorang anak akan meniru dan mengambil kebiasaan dari teman temannya”

Sejak kecil, orang tua harus tegas kepada anak-anak tentang batasan halal dan haram. Jangan karena alasan menjaga hati anak lalu membiarkan ia mencuri, menghina, atau pun memaki. Cegahlah ia, dan katakanlah itu haram dan terlarang.

Sejak kecil, tiga hal harus ditanamkan kepada anak sebagai pondasi akhlaknya, yaitu: cinta kepada nabi, cinta kepada ahli bait nabi, dan tilawah Al Quran”

Iniah tiga pondasi yang diajarkan oleh Rasulullah untuk membangun akhlak.

 

Kemuliaan-kemuliaan akhlak dan kearifan lokal yang telah terbangun dengan baik di masyarakat biarlah ia tumbuh subur, sementara penyimpangan yang masih berkembang itu harus dihentikan dan digantikan dengan kebaikan.

  1. Mendidik Dengan Nasehat
halaqah tahfiz

Wahai anakku, jagalah Allah, maka Allah pasti akan menjagamu. Jagalah Allah, pasti engkau akan mendapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya bila berkumpul seluruh manusia untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya sedikitpun kecuali seperti apa yang telah Allah takdirkan kepadamu. Begitu pula bila berkumpul seluruh manusia untuk memberi mudharat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya sedikitpun kecuali seperti apa yang telah Allah takdirkan kepadamu. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering

Inilah nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas saat ia masih kanak-kanak.

Dalam suasana santai dan penuh keakraban, sampaikanlah nasehat kepada anak. Selipkan pesan pesan kebaikan saat duduk bersama di atas motor saat mengantarnya ke sekolah, saat bersama di dalam mobil, di saat bercengkrama dalam kumpul keluarga, di saat hujan turun, di saat panas terik, dalam keadaan apapun, kita bisa menyampaikan nasehat kepada anak. Kita tidak tau, mana diantara kata-kata kita yang menempel di hati anak, seperti benih yang darinya tumbuh tanaman yang lebat dan memberi manfaat.

Melihat seorang yang hendak makan, Rasulullah memberinya nasehat, “Anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah apa yang ada di dekatmu

Lebih dari itu Rasulullah sudah mengingatkan para orang tua:

مروا أولادكم بامتثال الأوامر واجتناب النواهي

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya” (HR Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir)

Ketegasan ini yang yang hendaknya ditegakan oleh orang tua.

 

 

  1. Mendidik Dengan Perhatian

Menjadi seperti HP, ternyata itu keinginan anak kita yang sangat utama, seperti yang pernah kita lihat dalam sebuah video. Sebab HP mendapatkan perhatian yang sangat besar dari ibu dan bapaknya, lebih dari apapun. Lebih dari diri anak itu sendiri.

Mendidik dengan perhatian, ini yang mungkin kita lupakan. Perhatian verbal melalui kata kata dan pendampingan, tidak melalui kerja keras di luar rumah yang kita anggap sebagai sebuah perhatian dalam bentuk yang paling istimewa.

Mendidik dengan perhatian, mendampingi berjalan-jalan, menyelipkan pesan pesan iman dalam dialog yang akrab dan penuh kasih sayang, menjadi sebuah pengalaman berharga dalam hati anak.

Mendidik dengan perhatian, itulah pelajaran yang terbingkai dalam keindahan.

Orang yang terbaik, kata Rasulullah, adalah yang terbaik kepada keluarganya. Yang paling perhatian, memberikan pembimbingan, dan pendidikan kepada mereka.

  1. Mendidik Dengan Hukuman

Anak-anak berbeda satu sama lain. Mereka tidak sama dalam hal kecerdasan, penerimaan nasehat, dan kepatuhan. Ada yang secara alami memiliki kelembutan, ada yang berwatak keras, ada yang lembut. Semua itu kembali kepada orang tua, pengaruh lingkungan, dan kondisi keluarga masyarakat ia tumbuh besar.

Untuk menegur kesalahannya, ada yang langsung sadar melalui pandangan mata, ada yang cukup disampaikan dengan lembut, ada yang harus ditegur dengan keras, ada juga yang harus dihukum dengan pukulan.

Oleh karena itu, beberapa ulama pendidikan Islam, seperti Ibnu Sina, Al Abdari, dan Ibnu Khaldun, bahwa tidak boleh bagi para pendidik menegakkan hukuman yang keras kecuali dalam keadaan sangat terpaksa. Jangan sampai melakukan pemukulan kecuali setelah memberikan nasehat dan teguran.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah telah menyatakan bahwa kekerasan pada anak menyebabkan dia menjadi penakut, pengecut, dan lari dari kenyataan hidup. Dia akan mudah berbohong , menipu, dan membuat tipu daya karena takut hukuman. Perasaan ini lama kelamaan akan tumbuh menjadi karakter dan hilanglah sisi kemanusiaan dalam dirinya.

Seorang pendidik, seperti kata Imam Al Ghazali, seperti dokter. Sebagaimana seorang dokter tidak boleh memberi obat keras kepada orang sakit sekaligus karena takut bahaya, demikian pula ia tidak boleh menyelesaikan permasalahan anak dengan bersikap keras karena akan menimbulkan pengaruh psikologis yang berbahaya juga.

Sebelum mendapatkan hukuman, sang anak harus tau dan sadar tentang kesalahannya terlebih dahulu.  Ketika pada akhirnya harus menghukum anak dengan pukulan, maka ada beberapa yang perlu dilakukan:

  1. Tidak memukul kecuali telah melakukan semua sarana pendidikan, seperti teguran dan peringatan.
  2. Tidak memukul dalam keadaan marah. Kemarahan itu bisa membahayakan anak.
  3. Tidak memukul di tempat-tempat yang sensitif dan berbahaya, seperti kepala, wajah, dada, dan perut.
  4. Pukulan yang pertama hendaklah jangan sampai menyakitkan.
  5. Tidak memukul anak yang asianya kurang dari 10 tahun.

Hukuman yang dilakukan tujuannya murni untuk mengingatkannya agar kembali kepada kebenaran, bukan untuk menyakiti anak atau melampiaskan kekesalan atas masalah pribadinya.

Inilah langkah-langkah yang sangat berpengaruh dan terbukti dalam mendidik anak dan masyarakat, seperti yang dilakuan oleh Rasulullah dulu. Untuk mendidik generasi terbaik, kita memang harus melakukan langkah langkah yang terbaik.

Leave A Reply

Navigate