Menuju Kemenangan

Taushiyah Halal Bi Halal
Temu Kangen alumni HİKMAT MESİR
Bersama Ustadz Abdurrahman Bahmid
Sabtu, 30 Mei 2020

 

Ada korelasi yang sangat kuat antara Ramadhan dan Kemenangan.

Perang Badar yang menguras emosi, Fathu Makkah, Penaklukan Andalusia, Kemenangan Pasukan Quthuz di Ain Jalut dalam pertarungan dahsyat mengalahkan pasukan yang tidak pernah terkalahkan sebelumnya, yaitu Pasukan Tatar dari Mongolia, Kemenangan Shalahuddin dari pasukan Salib, semua terjadi pada Bulan Ramadhan.

Bila kita ingin membangkitkan umat ini, maka cara satu satunya adalah mengikuti manhaj Rasulullah yaitu membentuk pribadi pribadi yang baik.

Yang harus diubah itu diri dulu, baru komunitas. Kerusakan akan dimulai dari kerusakan jiwa juga. İni diungkapkan jelas dalam surat Al Anfal “Demikian Allah tidak merubah suatu nikmat sampai mereka mengubah dirinya sendiri”

Perbaikan diri ini adalah tujuan utama para reformis.

Kesalahan besar umat ini saat kita terpesona dengan harta dan politik, lalu kita menyangka perbaikan dimulai dari politik. Padahal perbaikan pertama dan utama adalah perbaikan diri yang dilakukan secara terus menerus.

Pembangunan politik, ekonomi, pranata hukum itu terakhir. Pembenahan paling awal yang dilakukan oleh Rasulullah adalah membangun jiwa.

Generasi Shalahuddin Al Ayyubi adalah generasi binaan dari İmam Al Ghazali dan Abdul Qadir Al Jailani.

Kerusakan jiwa menjadi awal dari kekalahan. Misalnya yang terjadi pada perang Uhud dan Hunain. Mereka pun porak poranda.

Kehancuran Umayyah, Abbasiyah, dan seluruh peradaban juga dimulai dari kehancuran jiwa.

Di sinilah posisi sentral Alkhairaat, yaitu Dakwah dan Tarbiyah.

Walaupun terjadi perang, jangan sampai hilang orang orang yang membangun jiwa dan menyucikan hati umat.

Sebab bilang tidak, walaupun pada akhirnya setelah perang itu mendapatkan kemenangan, mereka akan kembali jatuh karena konflik, sebab itu tidak ada kesiapan jiwa.

Tipu daya setan itu lemah. Tapi hawa nafsu yang membuat kita terjerumus, bahayanya lebih besar dari setan. İtu karena diri kita melekat dengan nafsu. Ketika mati baru dari terpisah dari nafsu.

Seseorang kalau sudah dikuasai nafsu, maka ilmunya menjadi budak nafsu. Semua yang kita miliki membenarkan semua keinginan nafsu. Diri kita pasti rusak saat kita mengikuti hawa nafsu.

Syarat membangun umat

1. Tundukkan hawa nafsu kita
Orang bisa berfikir dengan baik kalau dia punya akidah yang baik dan jiwa yang baik. Begitupun sebaliknya.

2. Dakwah
Agama ini milik Allah. Hati manusia di tangan Allah. Dia yang membolak balik hati. Tiba tiba manusia bisa saja langsung beriman. Tapi sunnatullah bukan begitu. Allah mengutus para nabi. Bahkan diantara para Nabi itu ada yang dibunuh di jalan dakwah saat menyeru orang kepada kebaikan.

Nabi menjadi manusia terbaik bukan karena iman mereka, walaupun iman mereka sempurna. Bukan karena ibadah, walaupun ibadah mereka bagus. Bukan karena akhlak, walaupun akhlak mereka sangat mulia. Tapi karena mereka berdakwah. Dakwah itulah sumber kemuliaan

Jalan tercepat kepada Rasulullah adalah dengan berdakwah.

Kenapa Nabi Ayub tidak masuk dalam Ulul Azmi padahal kesabaran beliau luar biasa? Itu karena kesabaran beliau lebih kepada pribadi. Sementara kelima Nabi Ulul Azmi itu bersabar fi Thariq Dakwah.

Dua agama yang mempunyai misi dakwah: Islam dan Kristen. Maka kedua agama ini mengalami ekspansi yang sangat massif di dunia.

Agama dan ideologi apapun, kalau didakwakan pasti akan ada orang tertarik. Maka sebenarnya kita ini sedang berlomba dengan dakwah kekufuran dan kesesatan.

Misionaris Kristen masuk sampai ke pedalaman Afrika. Mengapa mereka berani? Sebab mereka yakin bahwa yang mereka bawa itu kebenaran, padahal mereka dalam kebatilan.

Sementara kita dalam kebenaran kenapa kita tidak mendakwahkan?

Dakwah itu derajat tertinggi setelah kenabian.

Nabi Ibrahim dijadikan sebagai Imam disifati pribadinya sebagai ummah. Artinya dia mengumpulkan berbagai macam kebaikan umat. Inilah yang kita harapkan. Yang sebelum melakukan perbaikan umat, pribadinya telah menjadi akumulator kebaikan umat pada dirinya. Sehingga dia bisa memberikan kontribusi kepada orang lain.

An nakuna ummah qabla an naquuda ummah. Bagaimana kita mengumpulkan kebaikan pada diri kita.

Rasulullah memberi perumpamaan dengan Unta Pemikul. Itu jauh lebih baik dari 100 ekor unta lainnya. Ada orang yang bisa memberikan kebaikan kepada banyak orang.

Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan. Suara Qa’qa bin Amr lebih baik dari 1000 orang. Nilai diri kita seberapa besar kita bisa memberi manfaat kepada orang lain.

Bumi ini akan diberikan kepada hamba yang shaleh dengan maknanya yang total. Maka jadilah shaleh dulu barulah kita diberikan kemenangan.

3. Membangun persatuan.
Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah pertama kali setelah membangun tempat pengayaan Iman yaitu Masjid.

Rasulullah berjalan semalaman untuk memadamkan perpecahan

4. Menyiapkan kepemimpinan

(Notulensi: Umarulfaruq Abubakar)

Leave A Reply

Navigate