Keluarga

Merawat Keharmonisan

Sudah lebih jam 12 malam, sudah masuk ke hari berikutnya, tapi mata saya masih tidak bisa terpejam. Cerita Ibu Aliya tentang masa kecil Anies Baswedan, dan cerita Ibu Fery Farhati tentang kebersamaan keluarga mereka selama 20 tahun, merenggut rasa ngantuk dari mata saya. Membuat saya berfikir, merenung, dan mencurahkan perasaan. Di balik kebesaran seseorang, selalu ada cerita-cerita sederhana tapi sangat berkesan di belakangnya. Dan selalu ada sosok-sosok yang mendukungnya. Sampai kini saya selalu kagum dengan pasangan-pasangan tua, yang mampu merawat kebersamaan mereka dalam waktu lama. Anak-anak saya masih kecil, masa pernikahan saya belum terlalu lama. Masih terhitung pengantin baru bila dibandingkan dengan Pak Anies Baswedan dan lainnya. Saya pun masih kadang terbawa egoisme pribadi dalam mengambil keputusan. Saya masih suka emosi dan marah-marah, sampai akhirnya istri mengingatkan saya apa yang saya lakukan bukan waktu yang tepat. Ketika anak-anak istri bangun dan aktif, saya merasa terlalu bising untuk menulis dan membaca.…

Menyambung Harapan

Saya suka merenung dan mengingat-ngingat: apa yang menjadi harapan aba kepada kami? apa estafet perjuangan aba yang aba wariskan untuk kami lanjutkan? Agar tali cita dan harapan itu terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Terutama apa yang pernah aba sampaikan kepada saya secara pribadi. Sebab anak adalah penyambung cita-cita dan harapan orang tua. Apa yang menjadi harapan orang tua yang belum sempat diwujudkan oleh orang tua di masa hidupnya, sang anak bisa mewujudkannya sebagai bentuk bakti kepada orang tuanya. Ke Mesir Salah satu yang saya ingat betul adalah kisah aba yang sempat mendapatkan tawaran untuk sekolah di Mesir. Prestasi aba yang menonjol saat di aliyah dulu membuka kesempatan yang lebar untuk kuliah dan berguru kepada para masyayikh dan ulama yang ada di Mesir. Tetapi akhirnya kandas karena faktor ekonomi. Aba tidak punya modal sama sekali sebagai persiapan awal untuk berangkat. Cita-cita itu ternyata tidak luntur oleh waktu. Sejak…

Angkatan Muda Generasi Adab

“Sesungguhnya Aku hanya Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak Yang Mulia” Dari awal Rasulullah sudah menegaskan tentang target dalam misi kerasulan yang dibawa oleh beliau, yaitu menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia. Berawal dari iqra, berjuang meninggikan kalimat tauhid, lalu berakhir dengan keindahan akhlak dan peradaban yang tinggi, begitulah Rasulullah menjalankan misinya. Rasulullah memang sangat menakjubkan. Generasi yang hidup bersama beliau, dari bayi sampai orang tua, menjadi orang-orang yang hebat dan berpengaruh dalam peradaban umat manusia. Melihat keadaan adab dan remaja kita pada saat ini, sudah seharusnya kita kembali meneliti langkah dan strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam memperbaiki kondisi masyarakatnya. Dengan bimbingan wahyu, Rasulullah telah melakukan langkah-langkah yang manusiawi dan rasional. Bahkan dalam pendekatan pendidikan modern, apa yang dulu telah dilakukan oleh Rasululullah terbukti menjadi sebuah terobosan yang hebat dalam pendikan. Banyak ulama yang meneliti strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam memperbaiki kondisi masyarakat jahiliyah dan menjadikan mereka masyarakat yang beradab. Salah satunya…

Berbakti Kepada Anak

Selalu saya ingatkan kepada diri sendiri dan istri, bahwa anak anak ini tidak selamanya kecil. Segala pola tingkah lalu mereka yang tidak pernah diam, membuat rumah selalu seperti kapal pecah, dengan aktifitas yang tidak pernah kenal lelah, tidak akan lama. Hadapi dan nikmatilah dengan penuh kesyukuran. Kelak mereka akan besar, punya kehidupan masing masing. Akan tiba saatnya, mereka lebih menikmati beraktivitas sendiri dan dengan teman temannya, lebih dari orangtuanya sendiri. Jangan pernah berharap ada kedekatan dengan anak di masa mendatang, bila orangtua tidak berusaha membangun kedekatan itu sejak saat ini. Dan jangan pernah berharap anakmu berbakti kepadamu di usia tuamu, saat engkau tidak berbakti mengusirnya. Engkau pasti akan terusir, sebagaimana Umar bin Khathab mengusir seorang tua yang menuntut bakti, padahal sebelumnya dia tidak pernah berbakti kepada anaknya.

Keluarga Full Barokah

Ada yang punya satu anak, tapi rasanya seperti mengurus sepuluh orang. Repot luar biasa. Sementara ada yang punya 10 anak, tapi dia merasa tidak kesulitan dalam mengurusnya. Semuanya damai, teratur, dan mudah dikondisikan. Ada yang punya gaji dan penghasilan yang banyak, tapi habis begitu saja dan selalu saja terasa kurang. Sementara ada yang penghasilannya sedikit, tapi bisa memenuhi semua keperluannya dan keluarga. Sama-sama punya waktu 24 jam. Yang satu bisa sangat efektif dan full manfaat, sementara yang satu lagi tidak menghasilkan apa-apa dan hanya menambah sengsara dalam hidupnya. Sama-sama punya ilmu dan kedudukan. Yang satu bisa memberikan banyak manfaat bagi orang banyak, yang satu nyaris tidak bisa berbuat apa apa bahkan hanya mendatangkan mudharat. Semua hal ini memberikan isyarat bahwa masalahnya bukan pada anak, gaji, waktu, ilmu, atau pun kedudukan. Masalahnya terletak pada hilangnya keberkahan. Sebagai kepala keluarga, menghadirkan keberkahan adalah sesuatu yang sangat penting. Dengan hadirnya keberkahan, seberapapun harta…

Visi Kesehatan Keluarga

Menjaga kesehatan fisik harus menjadi salah satu hal prioritas perhatian dalam keluarga kita. Sehebat apapun rencana kegiatan untuk anak, pasti akan berhenti ketika fisiknya tidak mendukung. Ibarat sebuah kendaraan, fisik kitalah yang berperan utama dalam bergerak. Ketika dia mogok, maka rencana-rencana sebelumnya pun menjadi terhambat. Kejadian seperti ini beberapa kali saya alami. Pernah suatu hari di Bulan Ramadhan, saya mendapatkan undangan buka puasa bersama. Malamnya saya jadwal imam dan ceramah tarawih di sebuah mesjid. Ternyata di siang hari anak saya demam dan sakit perut, maka saya harus membawanya ke dokter. Dan karena itu saya izin tidak bisa hadir buka puasa juga tidak bisa menjadi imam tarawih. Anak-anak yang sudah menjalani kegiatan yang produktif pun menjadi terhenti karena sakit. Misalnya, pagi berangkat sekolah, sore ke TPA, malam untuk baca iqro. Setelah sembuh, ternyata tidak mudah untuk menjalankan kebiasaan-kebiasaan itu kembali dengan baik. Apalagi kalau sakitnya lebih dari seminggu. Anak-anak jadi rewel…

Visi Keluarga Kita

Waktu Yang Tak Lama Ayah Bunda, mau kita bawa kemana masa depan anak-anak kita? Sungguh, masa masa kebersamaan kita dengan anak itu tidak akan lama. Akan datang suatu saat kita tidak bisa lagi menikmati bermain dan bercanda bersama anak-anak kita betapa pun kita ingin sekali melakukannya. Kita tidak akan mendengar lagi suara rengekan mereka yang ingin ikut saat kita pergi meninggalkan rumah dan sambutan mereka yang ceria dan gembira saat kita kembali. Tidak ada lagi yang merengek mau nonton film kartun kesukaannya, di saat kita mau bekerja menggunakan laptop. Tidak ada lagi yang tertawa tawa menaiki punggung kita saat sujud shalat. Tidak ada lagi yang bahagia penuh suka cita saat kita mengajak mereka jajan dan membelikan makanan kesukaan. Mereka sudah punya dunia sendiri dan kesibukan sendiri. Dalam beberapa waktu ke depan, mereka bahkan lebih memilih bermain dengan teman sekelas daripada bersama dengan kita. Mereka lebih menuruti kata-kata temannya lebih daripada…

Peran Ayah Mencetak Penghafal Al Quran

Setiap kali saya ditanya tentang motivasi menghafal Al Quran, saya selalu teringat dengan almarhum abah saya tercinta. Walaupun beliau tidak hafal Al Quran, tetapi semangat yang beliau suntikkan mampu bertahan sekian tahun lamanya hingga saat ini. Hanya sekedar selentingan kecil, tapi cukup untuk melambungkan asa dan membuat saya bersemangat menghafal. Saat itu lagi ada MTQ tingkat provinsi Gorontalo yang diadakan di Tilamuta, tempat saya tinggal. Melihat para peserta yang rutin berlatih tilawah Al Quran dengan lagu yang merdu, saya jadi tertarik untuk meniru-niru. Inginnya orang yang mendengarkan merasa syahdu, ini malah jadi lucu. Sebab suara saya yang memang jauh dari merdu. Orang yang mendengarkan jadi senyum-senyum sendiri. Sebagian ada yang tertawa mendengar suara yang sumbang itu. Melihat hal itu, ayah saya langsung bilang, “Nak, kalau memang tidak bisa membaca Al Quran dengan berlagu merdu, bagaimana kalau kamu hafalkan saja ayat-ayat itu? Untuk berinteraksi dengan Al Quran tidak hanya dengan tilawah,…

Menjaga Keutuhan Keluarga

Menjaga Keutuhan Keluarga Umar bin Khathab terkejut bukan main. “Ada ada denganmu? Dulu engkau adalah wanita yang taat dan penurut. Sekarang engkau telah berani mendebatku?” tanya Umar kepada istrinya. “Apakah engkau tidak tau wahai putra Khathab, anakmu yang saat ini menjadi Istri Rasulullah, biasa mendebat suaminya, bahkan mendiamkan beliau dari pagi sampai malam” “Benarkah?” Umar tambah terkejut lagi. Lalu ia bersegera ke tempat putrinya, Hafshah. “Bertakwallah kepada Allah, wahai putriku!. Apakah benar engkau mendebat Rasulullah dan mendiamkan beliau dari pagi sampai malam?” tanya Umar tidak sabar. “Wahai ayahanda, sesungguhnya kami para istri Rasulullah biasa mendebat beliau dan mendiamkan beliau sampai malam” jawab Hafshah. “Bertakwallah kepada Allah, wahai putriku!. Janganlah membuatmu cemburu kecintaan Rasulullah kepada madumu yang lain (Aisyah). Sungguh Rasulullah lebih mencintainya daripadamu sebagaimana beliau lebih cinta kepada ayahnya daripada cinta beliau kepada ayahmu” lalu Umar pun pergi berlalu. Sikap istri Umar bin Khathab mulai berubah ketika…

Mengkondisikan Anak Menghafal Al Quran

Ayah Bunda… Untuk menghasilkan anak yang hafal Al-Qur’an, kita perlu berjuang dan bekerja keras. Sebab tidak ada sesuatu yang instan dan terjadi begitu saja di dunia ini. Segalanya perlu perencanaan dan proses. Mesti ada keinginan yang kuat untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan.  Dengan demikian barulah keinginan keinginan mulia kita itu dapat terwujud. Bila kita berharap anak yang hafal Al-Qur’an 30 Juz dengan cepat melalui metode tertentu tanpa kita selaku orang tua membuat persiapan sebelumnya, maka bersiaplah untuk kecewa. Sebab metode apapun tidak akan membuat anak bisa menghafal Al-Qur’an bila jiwanya belum disiapkan untuk itu. Di balik kesuksesan seorang anak yang hafal Al-Qur’an pada usia dini, sesungguhnya ada usaha dari orang tua yang sungguh-sungguh untuk menjadikan anaknya hafal Al-Qur’an, bahkan jauh sebelum sang anak lahir. Contohnya Tabarak, hafiz cilik usia 4,5 tahun. Jauh sebelum dia lahir, ayah dan ibunya sudah bertekad untuk menjadik anaknya kelak sebagai pelayan Al-Qur’an dan mendidiknya…

Navigate