Pendidikan

Syekh Abdul Hamid

Tahun 2008, ketika mengawali pendidikan S2 di Universitas Al Azhar, saya mendaftar masuk ke Asrama Mahasiswa di bawah asuhan Jam’iyyah Mishr Al-Mahrusah. Tempatnya di Muqattham. Jauh sekali dari kawasan mahasiswa Indonesia, yang rata-rata waktu itu tinggal Hay Asyir, Nasr City. Dari Nasr City, harus naik lebih dari sejam ke kawasan Sayyidah Aisyah, kemudian nyambung lagi untuk ke Muqattham. Tidak langsung ke Asrama. Bisnya berhenti di persimpangan dekat bukit Muqattham, setelah itu baru mendaki berjalan kaki ke atas. Hanya ada satu bis yang lewat depan asrama langsung, tapi itupun waktu menunggunya kadang lama dan waktunya tidak menentu. Di asrama itu saya sekamar dengan Alwin dari Aceh dan Umar Abdillah dari Nigeria. Saya kenal dengan teman dari Sudan, Eriteria, India, Syiria, Pakistan, Aljazair, dan dari berbagai negara lainnya yang tinggal di asrama itu. Direktur Pelaksana Hariannya namanya Ust. Asyraf dan Direktur Yayasan namanya Ust. Muhammad Basyir. Satpamnya namanya Husam. Guru qurannya banyak.…

Memperbaiki Diri, Menghadirkan Solusi

  Beginilkah Keadaan Kita Dunia benar-benar meradang. Kemajuan teknologi tidak diiringi oleh kebaikan moral. Yang hadir adalah ilmu tanpa moral. Penemuan tanpa moral. Pemimpin tanpa moral. Rakyat tanpa moral. Pendidikan tanpa moral. Pergaulan tanpa moral. Rumah tangga tanpa moral. Sebuah perjalanan panjang yang akan berujung kegundahan dan kesengsaraan. Ada Ibu Nurmayani, seorang guru Biologi SMPN 1 Bantaeng, terpaksa mendekam di tahanan karena dilaporkan oleh wali murid pada polisi telah mencubit salah seorang siswanya. Ada Ibu Darmawati, guru agama yang berakhir dipenjara karena mengibaskan mukena untuk menghentikan anak bermain saat waktu shalat dhuhur. Ada Pak Mubazir yang dipenjara karena memaksa murid disiplin memotong rambut. Ada murid SMP yang mengajak gurunya berkelahi karena ditegur untuk tidak merokok di kelas. Ada murid yang benar-benar memukul guru. Secara umum yang terjadi ada hilangnya rasa penghormatan kepada guru. Akibatnya adalah berbicara dan bersikap tidak lagi diiringi oleh sopan santun. Dalam keadaan seperti ini, apalagi keberkahan…

Persiapan

Aktifitasnya sama, rasanya yang berbeda. Itu karena untuk mengajar hari ini saya membuat persiapan sebelumnya. Paling tidak saya sempat membaca, dan menyiapkan poin-poin apa saja yang akan saya sampaikan. Lebih plong, terkontrol, dan terukur. Dan lebih bahagia tentunya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Saya bahkan tidak tau apa yang akan saya sampaikan. Lalu mulailah saya berbicara berdasarkan judul utama. Di tengah jalan saya benar-benar macet, apa lagi yang akan saya sampaikan. Cerita ini sudah pekan lalu, materi ini sudah juga, kisah ini rasanya gak nyambung. Itu yang berputar-putar di kepala. Mungkin karena saya merasa mengajar Mapel “Fiqih Dakwah” dan “Ushul Fiqih” ini sudah lama, sudah ada RPP-nya dan isinya begitu-gitu saja. Hasilnya: blank. Ternyata persiapan sebelum belajar, minimal merenungkan poin poin penyampaian tidak boleh disepelekan. Banyak masalah dan contoh-contoh baru yang harusnya lebih up to date. Dua Kalimat Saya jadi teringat dua kalimat legendaris tentang pentingnya persiapan. Pertama, “Sebodoh apapun engkau,…

Angkatan Muda Generasi Adab

“Sesungguhnya Aku hanya Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak Yang Mulia” Dari awal Rasulullah sudah menegaskan tentang target dalam misi kerasulan yang dibawa oleh beliau, yaitu menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia. Berawal dari iqra, berjuang meninggikan kalimat tauhid, lalu berakhir dengan keindahan akhlak dan peradaban yang tinggi, begitulah Rasulullah menjalankan misinya. Rasulullah memang sangat menakjubkan. Generasi yang hidup bersama beliau, dari bayi sampai orang tua, menjadi orang-orang yang hebat dan berpengaruh dalam peradaban umat manusia. Melihat keadaan adab dan remaja kita pada saat ini, sudah seharusnya kita kembali meneliti langkah dan strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam memperbaiki kondisi masyarakatnya. Dengan bimbingan wahyu, Rasulullah telah melakukan langkah-langkah yang manusiawi dan rasional. Bahkan dalam pendekatan pendidikan modern, apa yang dulu telah dilakukan oleh Rasululullah terbukti menjadi sebuah terobosan yang hebat dalam pendikan. Banyak ulama yang meneliti strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam memperbaiki kondisi masyarakat jahiliyah dan menjadikan mereka masyarakat yang beradab. Salah…

Kekuatan Kasih Sayang

Suatu Hari di Masjid Nabawi Sejak kedatangan Rasulullah Saw. di Madinah, mesjid mempunya fungsi yang sangat besar bagi kaum muslimin. Tidak sekedar sebagai tempat shalat, tapi juga sebagai tempat belajar, mengumpulkan pasukan, dan mengatur strategi perang. Maka mesjid pun selalu ramai oleh para sahabat. Suatu ketika, Rasulullah Saw. bersama para sahabat sedang berkumpul di Mesjid. Tiba-tiba datanglah seorang badui dan langsung…  sreeeeeettttt……. Ia kencing di mesjid….! Para sahabat langsung menghardiknya bahkan ada yang ingin memukulnya “Biarkan ia!” ujar Rasulullah Saw. dari jauh. Mereka pun membiarkannya sampai ia menyelesaikan buang air kecilnya. Setelah itu Rasulullah kemudian memanggilnya seraya memberikan nasehat, “Sesungguhnya mesjid ini tidak boleh terkena sedikitpun dari air kencing ini atau kotoran lainnya. Sesungguhnya ia digunakan untuk mengingat Allah Swt., shalat dan membaca Al-Qur’an” ujar beliau dengan lembut. Rasulullah lalu memerintahkan seorang sahabat yang ada untuk membawa seember air dan menyiramkannya ke atas kencing tersebut. Demi Allah, ini adalah peristiwa…

Bukan Dunia Kata-Kata

Dalam ungkapan yang sangat singkat Rasulullah Saw. dapat menyampaikan kepada kita nasehat yang berharga dan dalam maknanya. Kali ini beliau mengingatkan kepada kita tentang manajemen hati dalam menuntut ilmu, agar tak sia-sia segala waktu yang kita gunakan untuk belajar dalam waktu yang lama. Menghitung Waktu Belajar Bila kita menghitung waktu belajar formal dari tingkat SD sampai selesai S1 perguruan tinggi, maka waktu yang gunakan paling kurang 16 tahun. Belum ditambah dengan pendidikan formal S2 dan S3. Walaupun pada hakekatnya manusia adalah makhluk pembelajar selama hidupnya. Waktu belajar terus berlangsung sampai hembusan nafas yang terakhir. Lalu untuk apa kita belajar selama itu? Rasulullah sudah mengingatkan: عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي النَّارِ. حديث حسن رواه ابن ماجه “Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Muhammad Saw. beliau berkata, “Siapa yang menuntut…

Rumah Qur’an Najmul Khairaat; Mendidik Anak di Usia Balita

Di tengah kekhawatiran para orang tua terhadap pendidikan dan pergaulan anak, pendidikan berbasis Al-Quran menjadi pilihan terbaik dan utama. Pendikan berbasis Al-Quran ini berbasis pondok pesantren, sekolah, taman pengajian, maupun rumah Quran. Di lembaga-lembaga ini, anak-anak diajak untuk lebih dekat dengan Al-Quran melalui pembelajaran membaca dan menghafal Al-Quran, serta usaha untuk memahami makna-makna ayat yang sedang dihafal. Salah satunya adalah Rumah Qur’an Najmul Khairaat yang berada di Desa Modelomo Kecamatan Tilamuta Kab. Boalemo, Gorontalo. “Berlandaskan ayat Al-Quran dan hadis mengenai keutamaan menghafal Alquran sejak usia dini, kami berinisiatif untuk membentuk lembaga Tahfizul qur’an khusus balita dan anak anak” demikian motivasi utama pendirian Rumah Quran ini, seperti yang disampaikan oleh Direktris Rumah Qur’an Najmul Khairaat, Ustadzah Nur Jannah Hiola, Lc., M.Pd Tentunya bukan hal yang mudah membimbing anak-anak balita untuk duduk diam menghafal Al-Quran. Namun terbukti, dengan program dan sistem yang ada, rumah Quran ini mampu mencetak anak-anak usia balita yang…

Kasih Sayang, Adil, dan Ihsan

Diantara  nasehat guru kami, Ust. Mu’in, dalam rapat pimpinan yang sempat saya catat dan selalu saya ingat adalah: hendaklah setiap kita; guru, musyrif,  muhaffiz, dan seluruh pegawai, berlomba-lomba untuk dekat dengan santri, memberi perhatian dan pelayanan yang terbaik, dan melakukan pembimbingan dan pembinaan yang baik untuk kesuksesan mereka di pondok ini. Santri ibarat tanaman yang kita rawat dan pelihara, sementara alumni adalah buahnya. Bagaimana usaha kita merawat dan memeliharanya, begitulah yang akan tampak pada buahnya. Dan ukuran kesuksesan itu terlihat pada kedekatan alumni dengan almamaternya, dan kesetiaan mereka pada warisan pemikiran dan nilai nilai yang telah diajarkan. Bagaimana mewujudkannya? Dengan memperhatikan 5 nilai pendidikan: Ikhlas, Itqan, Ihsan, Ihtirom, dan Ihtimam. Ikhlas artinya beramal karena Allah, berusaha memberikan yang terbaik, menjadikan pondok ini sebagai tempat penerapan nilai-nilai Islam secara kaffah. Itqan artinya berusaha menyelenggarakan proses pendidikan yang terbaik, dengan standar mutu yang unggul, dan pengelolaan manajemen yang profesional. Ihsan artinya berusaha memberikan pelayanan…

Menuju Indonesia Maju Dengan Penghafal Al Quran

Adanya pemberitaan-pemberitaan dari media cetak, televisi, dan radio tentang anak-anak muda yang sudah terkena dampak negatif dari modernitas; kecanduan game online, pornografi dan pornoaksi, ditambah siaran-siaran yang kuerang mendidik di tv, membuat ada sedikit prihatin dan khawatir tentang dampak buruk bagi masa depan bangsa masyarakat di Indonesia Di sinilah pentingnya usaha mendidik anak-anak sejak dini untuk memahami nilai-nilai agama seperti memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran. Agar bangsa ini dapat terus dijaga dari pengaruh buruk yang terus membayangi. Kebijakan menggratiskan biaya kuliah hafiz Alquran memastikan pihak kampus yang bersangkutan memiliki mahasiswa berkualitas tinggi. Sebab, para hafiz merupakan insan Muslim yang mencintai ilmu, berdisiplin tinggi, sehingga akan mudah menyerap pelajaran di universitas. mempersiapkan genenasi masa depan yang matang tentu tidak dalam waktu yang singkat. Mengapa bisa demikian? Itu karena Al Quran adalah kitabullah yang penuh kemuliaan. Allah angkat derajat mereka-mereka yang memuliakannya, dan hinakan orang-orang yang merendahkannya. Orang-orang yang menempel dan…

Menjadi Pondok Yang Berani

Semua berawal dari kepedulian. Ingin agar pondok ini menjadi tempat perwujudan ajaran Islam tentang Kebersihan, Kerapian, dan Keindahan. Tentu tak mungkin kalau hanya upaya orang perorang. Harus ada komitmen dan langkah bersama. Maka hari ini kami berjanji untuk melangkah bersama mewujudkan pondok yang Berani (Bersih, Rapi, Asri, Nyaman, dan Indah). Kenapa Berani? Karena hanya dengan Keberanian maka kita dapat menjadi Berani, dengan 5R langkah konkrit: Ringkas, Resik, Rapi, Rajin, dan Rawat. Semua ini bisa terwujud bila ada kerjasama dan sinergi antara Santri, Asatidzah, dan Wali Santri. Kami sudah membentuk Tim Berani untuk mewujudkan niat mulia ini, di bawah bimbingan Pak Heru Mulyono, salah satu wali santri di Ibnu Abbas. Upacara Lounching Program Berani ini diadakan di PPTQ Ibnu Abbas Klaten, Kamis, 26 September 2019 pkl. 07.00 – 07.45 di Lapangan Barat Ibnu Abbas Belangwetan ini, menandai babak baru menuju pondok pesantren yang modern dengan pengelolaan kebersihan yang profesional dan lebih…

Navigate