Pendidikan

Kisah 3 Umair

Dari sekian sahabat yang diceritakan oleh Imam Izzuddin Ibnul Atsir dalam bukunya, Usudul Ghâbah fi Ma’rifat Ash Shahâbah, beliau menyebutkan tentang 48 orang sahabat Rasul yang bernama Umair. Berikut ini adalah kisah 3 orang diantara mereka… 1. Di Medan Badar, perang berkecamuk. Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, “Demi jiwaku yang ada di tanganNya, tidak ada seorang pun yang hari ini memerangi orang musyrik, kemudian ia terbunuh dengan penuh kesabaran dan pengharapan kepada Allah, tanpa berlari kembali ke belakang, kecuali pasti Allah masukkan ia ke dalam surga” Seorang pemuda yang saat itu sedang makan kurma, bergumam penuh takjub… “Bakh… bakh…” Rasul bertanya, “Mengapa engkau bergumam, wahai Umair?” “Ya Rasulallah, bukankah antara aku dengan surga hanya sekedar maju kemudian aku memerangi mereka lalu aku terbunuh?” “Benar sekali” Saat itu di tangan pemuda itu masih ada beberapa butir kurma. Ia pun berkata, “Apakah aku harus hidup sampai menyelesaikan makan kurma-kurma ini? Sungguh, itu…

5 Menit yang Berkah

Bagi Abnaul Khairaat dalam lintas generasi, duduk bersimpuh baca buku di hadapan Habib Saqqaf menjadi proses belajar yang paling penting dan mengesankan. Yang dibaca mungkin hanya 5 baris. Namun persiapannya bisa sampai satu pekan. Sebab tidak boleh salah. Malu sekali rasanya kalau sampai ada satu harakat i’rab yang tidak tepat. Disamping habib menguji pemahaman dengan menanyakan beberapa hal tertentu. Itulah yang sering kali banyak yang tidak pede baca buku di hadapan Habib. Selain karena hal hal tadi, juga karena Haibah beliau yang luar biasa. Padahal Habib sangat gembira bila ada murid yang berani maju untuk membaca. Sebab inilah tradisi paling terdahulu dalam proses belajar yang dilakukan oleh Habib Idrus bin Salim Aljufri, Guru Tua pendiri Alkhairaat. Di kalangan para ulama, tradisi ini juga mengakar dengan kuat. Nasehat ini disampaikan oleh bapak saya, dan menjadi rahasia; mengapa dulu Aba menjadi murid kesayangan habib. Kuncinya satu; berani maju dan mempersiapkan diri. Namun…

Legenda Alkhairaat Tilamuta

Ust. Nur Huda. Nama itu mewakili sekian banyak kenangan tentang Ramadhan dan Idul Fitri bersama Aba, para santri, alkhairaat, dan masyarakat Tilamuta. Dulu namanya Mas Gian. Asal Banyuwangi, Jawa Timur. Agamanya Hindu. Takdir membawanya ke Tilamuta dan bertemu dengan Aba sekitar tahun 1987. Masuk Islam di tahun itu lalu berganti nama menjadi Nur Huda. Cahaya Petunjuk. Sejak saat itu Ust Nur tinggal dan belajar di Alkhairaat Tilamuta. Dan jadi anak kesayangan Aba. Sebab ia ulet dan rajin bekerja. Saya dan adik adik sampai dekat dengan Ust Nur, dan memanggilnya Kak Nur, saking seringnya bersama Aba. Keuletan itu masih terlihat. Sampai sekarang. Ust. Nur masih tetap jadi Ustadz segala urusan. Mulai pangkas rumput halaman sekolah, muazzin shalat lima waktu, bersih bersih masjid, perbaiki kran, sampai mengajar. Mengajarnya pun konsisten sejak puluhan tahun lalu, di Madrasah Ibtidaiyah. Masjid Alkhairaat yang sebesar itu, beliau sendiri yang mengecatnya setiap tahun. Halaman sekolah yang seluas…

Unta, Gunung, Langit, dan Bumi

Suatu Pagi di Ruang Rapat Sebagai mc, saya meminta Ust Aziz Saifullah Al Hafiz untuk tilawah. Beliau pun membaca akhir surah Al Ghasyiyah: أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلۡإِبِلِ ڪَيۡفَ خُلِقَتۡ (١٧) وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ ڪَيۡفَ رُفِعَتۡ (١٨) وَإِلَى ٱلۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ (١٩) وَإِلَى ٱلۡأَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ (٢٠) فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَڪِّرٌ۬ (٢١) لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ (٢٢) إِلَّا مَن تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ (٢٣) فَيُعَذِّبُهُ ٱللَّهُ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَكۡبَرَ ٢٤) إِنَّ إِلَيۡنَآ إِيَابَہُمۡ (٢٥) ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا حِسَابَہُم (٢٦) “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, (17) Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? (18) Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? (19) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (20) Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (21) Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (22) tetapi orang yang berpaling dan kafir, (23) maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. (24) Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, (25) kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (26)” Setelah tilawah, saya persilahkan guru kami Ust. Muinudinillah untuk menyampaikan tadabbur atas ayat yang baru saja dibaca. Bukannya…

Kegigihan Yang Konsisten

Dalam berjuang menjaga amal, saya pun sangat kagum dengan Ust Muin. Selama saya berada di Ibnu Abbas, beliau selalu benar-benar menjaga shalat 5 waktu di masjid, jadwal mengajar di kelas, jadwal mengisi kajian tafsir di santri putra dan putri, dan juga kajian pembinaan muhaffiz. Pagi di Jakarta, malam sudah di pondok untuk mengajar. Banyak undangan, pertemuan, atau tamu yang ditunda atau ditolak karena beliau berusaha hadir di majlis pengajian. Dari Habib Salim Seggaf Al Jufri saya belajar tentang konsistensi sikap dan pemikiran. Sejak beliau mengajar di masjid (pertamakali saya mengikuti majlis beliau di Masjid Alkhairaat Pusat, Palu), mendapat amanah menjadi dubes, menteri sosial, dan hingga saat ini, beliau konsisten dalam pemikiran dan visi perjuangan. Beberapa tahun saya mengaji kepada Syekh Asyraf di Masjid Darrasah, beliau tidak pernah sehari pun absen dari halaqah tahfiz bakda subuh. Sebagai santri, saya merasa semangat untuk selalu hadir karena yakin guru saya pasti ada di…

Berjuang Menjaga Amal

Belajar dari Ust Salim A. Fillah, Ust Felix Siawu, Ust. M. Fauzil Adhim, sebelumnya ada Emha Ainun Nadjib dan Dahlan Iskan, sebelumya ada Syekh A’idh Al Qarni dan  Syekh Ali Thanthawi, dan sebelum itu ada Imam Ibnul Jauzi dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, bahwa yang berat itu bukan menggoreskan kata dan merangkai makna, tapi istiqamah dalam mempertahankan amal. Saya selalu kagum pada kesederhanaan yang bertahan lama; Pada orang yang mampu memposting tulisan setiap hari dengan rutin di Instagram, Twitter, Facebook, Website, atau Media Massa lainnya Pada muazzin yang mampu mengumandangkan azan selalu tepat pada waktunya Pada jamaah yang bisa hadir di shaf pertama dalam setiap shalat berjamaah Pada ibu yang mampu memberangkatkan anaknya ke sekolah tidak terlambat, dan sebelumnya semua anaknya sudah mandi, berseragam rapi, dan sarapan pagi. Plus kondisi kamar dan dapur yang juga sudah bersih dan wangi. Pada guru yang tepat waktu datang ke sekolah dan tidak pernah…

Nasehat Ust Sufyan Nur Al Makki

“Saya pernah naik kuda sekitar 1,4 meter. Tiba tiba kudanya itu melompat dan saya mencelat ke atas lebih dari 1 meter, lalu jatuh ke tanah dengan kepala jatuh duluan. Secara normal, orang biasa lehernya sudah patah, begitu pula kaki dan tangannya. Tapi alhamdulillah saat itu saya tidak apa-apa. Saya langsung loncat dan naik lagi ke punggung kuda. Saya tidak pernah takut jatuh dari kuda. Yang saya takut itu kalau naik kuda tidak baca bismillah, tidak shalat berjamaah, ketinggalan shalat shubuh berjamaah. Itu yang membuat saya khawatir. Bahaya dan masalah biasanya datang dari situ. Sementara kalau Allah melindungi, maka bahaya apapun tidak akan terjadi” Demikian pesan guru saya, Syekh Sufyan Nur Al Banjari Al Makki. Banyaklah berzikir kepada Allah. bil adzkar tasyriqul anwar wa tuksyaful asraar. Dengan dzikir cahaya akan bersinar dan rahasia-rahasia akan terbuka. Itulah diantara pesan nasehat guru saya tercinta saat berkunjung ke Ibnu Abbas, Selasa, 19 Februari 2019…

Santri Baru SMP SMA PPTQ Ibnu Abbas Klaten 2019/2020

Selamat dan sukses bagi para santri Santri SMP SMA PPTQ Ibnu Abbas Klaten tahun ajaran 2019/2020. Selamat datang dan selamat bergabung bersama kami di Ibnu Abbas Bagi yang belum bisa bergabung, semoga Allah memberikan sekolah dan tempat yang jauh lebih baik dari pondok kami yang masih sangat sederhana ini. Semoga Allah melimpahkan nikmat dan karunia untuk kita semua Dari 1.048 orang pendaftar, nama-nama berikut ini yang dinyatakan lulus seleksi. Tidak ada yang menghalangi kami untuk menerima, kecuali karena keterbatasan sarana prasarana, guru, dan juga kemampuan yang kami miliki. Sembari berharap, semoga silaturrahim yang telah terjalin selama ini akan tetap terikat dengan erat. Silahkan Klik: DAFTAR SANTRI BARU SMP PUTRA DAN PUTRI Tahun Ajaran 2019/2020 DAFTAR SANTRI BARU SMA PUTRA DAN PUTRI Tahun Ajaran 2019/2020 Jangan lupa untuk segera daftar ulang, KETENTUAN DAFTAR ULANG PSB Waktu Daftar Ulang Tanggal           : 1 – 9 Februari  2019 Persyaratan Daftar Ulang Menyerahkan…

Muda dan Berkarakter

Hari ini, Jumat 7 Desember 2018, saya diminta oleh guru saya dan juga guru agama di SMA Negeri 2 Klaten, Drs. Tukimin Ahmad Fathuddin, MA., untuk mengisi Seminar Penguatan Karakter, bersama para pembicara lainnya. Singkat cerita, saya menyampaikan materi dari buku “Risalah Ila Syababil Ummah” karya Dr. Raghib As Sirjani, tentang 10 nasehat untuk penguatan karakter pemuda muslim. Kesepuluh nasehat tersebut adalah: Tinggalkan Maksiat Kenali Agamamu Dekatlah Dengan Masjid Cetak Juara dan Prestasi Kuatkan Silaturrahim Pilih Sahabat Yang Baik Pahami Lingkungan Jadilah Olahragawan Ajaklah Kepada Kebaikan Atur Waktu Dengan Baik Dalam pemaparan, saya menekankan bahwa kualitas anak muda itu terletak pada ilmu dan adabnya. Tanpa ilmu dan adab, ia tidak berarti apa-apa. Tidak terasa satu jam berlalu hingga tibalah pada sesi yang paling saya sukai, yaitu sesi diskusi dan tanya jawab. Bertukar pikiran dengan siswa SMA yang cerdas dan berkarakter, calon pemimpin bangsa, adalah hal yang sangat menyenangkan. Inilah pertanyaan pertanyaan…

Internasionalisasi Nilai Pesantren

Belajar Dari Sejarah Perang Hittin adalah salah satu perang yang besar dan sangat menentukan sepanjang sejarah kaum muslimin. Nama Shalahuddin Al Ayyubi berkibar-kibar karena berhasil memimpin perang yang luar biasa ini. Perang yang terjadi bulan Ramadan tahun 584 H/1187 M, berhasil memukul mundur Tentara Salib dari Kerajaan Yerusalem. Kemenangan itu tentu bukan hanya milik Shalahuddin Al Ayyubi, tapi milik para prajuritnya yang hebat, dan juga milik kaum muslimin yang memberikan dukungan yang besar pada saat itu. Shalahuddin Al Ayyubi berangkat bersama 25.000 prajurit terbaik, 13.000 orang pasukan berkuda, 12.000 pasukan perjalanan kaki. Menghadapi koalisi pasukan musuh yang berjumlah 60.000 orang. Pasukan-pasukan yang hebat itu berhasil memporakporandakan musuh, lalu mengambil Al Quds dari tangan-tangan para salibis. Shalahuddin pasti tak akan mampu menghadapi pasukan salibis sendiri. Kehadiran 25.000 orang yang menjadi pasukannya itu menjadi penentu utama kemenangan. Namun tahukah kita, dari masa asalnya 25.000 orang pasukan terbaik itu? Siapakah mereka dan mengapa…

Navigate