Sosial Budaya

Merawat Nikmat

Rasanya saya perlu sejenak duduk untuk instrospeksi diri; tentang nikmat yang bertabur dan melimpah, namun akhirnya tidak disadari karena sibuk melihat apa yang ada pada orang lain. Misalnya, kagum dengan Ust Salim A Fillah, Ust. Adi Hidayat, Ust Felix Siauw; dengan follower di Instagram, twitter, dan beratus ribu bahkan berjuta-juta, dengan karya-karya buku best seller, video-video ceramah di youtube dan Ig, usaha bisnis yang melimpah, dengan dakwah yang mendunia ke berbagai negara lintas benua dalam usia yang sangat muda, bahkan tidak terlampau jauh dengan saya. Lalu pengen jadi seperti itu. Tepatnya pada kepopuleran dan produktifitasnya itu. Lupa bahwa di balik semua itu pasti ada perjuangan yang hebat dan luar biasa. Lupa bahwa saya punya banyak potensi yang belum terkelola dengan baik. Lupa tentang keahlian spesial diri sendiri yang bisa dikembangkan jauh lebih baik lagi. Lupa tentang sarana dakwah di pesantren dan masyarakat yang potensial dan harusnya bisa lebih digarap dengan…

Kesaksian Air Mata

Engkau pernah menangis di usia sebesar ini? Hehehe… Saya pernah. Kapan? Dulu. Berkali-kali. Bahkan sampai saat ini. Saya masih teringat, di hadapan Syekh Izzat saya berkali-kali bercucuran air mata. Kenapa? Karena hafalan saya tidak lancar. Sehingga dihentikan di tengah halaman dan tidak boleh melanjutkan. Padahal rasanya saya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi ternyata belum. Perasaan saja sudah berusaha, padahal belum maksimal. Maka di hadapan Syekh Izzat, baru ditegur sekali hafalan langsung buyar. Tetapi dengan itu, Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan hafalan Al Qur’an. Waktu belajar Bahasa Arab pun begitu. Kok rasanya sulit sekali baca kitab kuning tanpa harakat itu. Untuk baca satu kalimat tanpa salah, saya harus belajar kaedah nahwu, Sharaf, dan melihat kamus Bahasa Arab. Belum lagi harus bercakap cakap. Apalagi kalau disuruh pidato. Duh, saya semakin mengecil. Dan tak berdaya. Habib Saqqaf dan Aba adalah guru terbaik dalam hal ini. Dari belajar Bahasa Arab akhirnya mengantarkan saya ke Mesir.…

Berkah Ketaatan

Imam Ad Dzahabi menuturkan kisah menakjubkan ini dalam kitab beliau Siyar min A’lam An Nubala (Biografi ulama ulama brilian), dalam biografi Imam Rabi’ah bin Abdirrahman Alkisah saat itu, panggilan jihad berkumandang. Seorang suami bernama Farukh atau dikenal dengan panggilan Abu Abdirrahman menemui istrinya yang sedang hamil. Dengan berat hati ia harus meninggalkan istri dan jabang bayi yang masih berada dalam kandungan. Sang istri pun terisak, karena mungkin anak yang dikandungnya tidak akan pernah melihat wajah ayahnya, mengingat resiko perang yang taruhannya adalah nyawa. Untuk keperluan hidup keluarga dan bekal untuk membesarkan anaknya, Farukh meninggalkan uang sebesar 30.000 dinar. Lalu kedua suami istri pun berpisah dan entah kapan bisa bertemu kembali. Hari pun berganti hari. Tidak terasa telah berlalu 27 tahun. Suatu sore,seorang tua yang terlihat seperti musafir yang baru melakukan perjalanan jauh segera memacu kudanya ke arah sebuah rumah di kota Madinah. Di depan sebuah rumah ia berhenti. Masih dengan…

Politisi Sejati vs Pekerja Politik

Bukan hanya sekali-dua kali kali polisi datang ke pondok kami. Berkali-kali…! Ada yang bahkan lengkap dengan pasukan rider, mobil komando dan patroli. Sampai kadang-kadang membuat sebagian guru dan masyarakat yang melihat menjadi takut, menyangka penggerebekan atau yang lain. Padahal sebenarnya tidak. Tujuan pak polisi datang adalah untuk bersilaturrahim dengan keluarga besar PPTQ Ibnu Abbas Klaten, dan terutama dalam hal ini dengan Direktur Pondok, Ust. Muinudinillah Basri. Biasanya setelah pelantikan Kapolres yang baru Dalam setiap pertemuan itu, Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mendampingi dan ikut menyimak pembicaraan. Salah satunya adalah pertemuan beberapa waktu yang lalu. Saat seorang perwira senior polisi yang datang untuk menyambung silaturrahim. “Maaf Ustadz, kadang-kadang politik itu memisahkan kita, membuat hubungan silaturrahim terputus. Untuk kepentingan politik, semua dilibatkan. Sehingga kadang kita menjadi kabur, sebenarnya masalah yang terjadi ini permasalahan agama, budaya, sosial, ataukah semua itu hanya menjadi komoditas politik semata” kata sang perwira. “Jadi memang sebaiknya tidak usah ada…

Momentum

Di tengah dinginnya subuh yang berkabut di puncak Ungaran, lantunan tilawah yang dibacakan oleh Ust. Ashim mampu menggetarkan jiwa. Di Rakaat pertama, beliau membaca 3 ayat terakhir Surah Al Baqarah… (لِّلَّهِ مَا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَمَا فِی ٱلۡأَرۡضِۗ) “Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. …” dan seterusnya Di rakaat kedua, beliau membaca Surah Ali Imran ayat 190-194: (إِنَّ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّیۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ) “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal….” dan seterusnya. Berulang kali ayat ini saya sudah dengar, tapi pengaruhnya dalam hati sangat jauh berbeda, saat ayat itu dibacakan dengan merdu di Puncak Gunung, saat langit terasa luas membentang, bulan dan bintang terasa dekat, dan mata mampu menyaksikan luasnya kebesaran Allah. Dada bergetar dan mata pun tak kuasa menahan air mata yang keluar begitu…

Belajar Dari Badiuzzaman Said Nursi

1960, beliau menghembuskan nafas yang terakhir, setelah melewati perjuangan yang sangat hebat. Hampir separuh usianya dihabiskan dalam penjara dan pengasingan. Kalau saja ia berkompromi atau mau mundur selangkah dari prinsip, tentulah ia sudah mendapatkan jabatan dan tinggi dan harta yang banyak. Tetapi beliau memilih untuk bertahan. Tidak pernah ada toleransi dalam kebatilan. Khamar tetap haram, walau dikonsumsi di kalangan pemerintah. Jilbab tetap wajib, walaupun ada pelarangan. Tauhid tetap harus tegak, walaupun kemusyrikan, kezindiqan, dan kemunafikan merajalela. Banyak yang terganggu. Banyak yang tidak suka. Bahkan setelah ia meninggal dunia. Namun keteguhannya, keilmuannya, dan perhatiannya yg besar kepada agama, menjadi inspirasi sepanjang masa. Rasail Nur yang ditulis dalam penjara dan pengasingan itu memberikan pencerahan. Tidak hanya di Turki, tapi sampai ke seluruh dunia. Tidak hanya saat ia hidup, tapi tetap bertahan puluhan tahun setelah ia meninggal. Tidak hanya dikaji dalam kelompok kecil, tetapi diangkat dalam banyak seminar Internasional. Teladan Keberanian dan Keteguhan…

Kenangan

Sekarang mungkin tak penting. Tapi suatu ketika, apa yang pernah kita alami menjadi bagian penting dari sejarah hidup.   Apa yang pernah kita lihat, dengarkan, rasakan, atau pikirkan, sesungguhnya tak pernah hilang dari hati dan ingatan.   Ia akan kembali hadir saat ada pemantik, ketika ada sentuhan rasa atau rasio yang membuat kenangan-kenangan itu nyata di depan mata.   Sekarang mungkin kita sudah bertaubat, tapi siapa yang bisa menjamin bila akar dosa yang terlanjur sudah tertanam akan kembali mekar?   Ia bahkan bisa tumbuh lebih rimbun dari pada sebelumnya.   Ya, kenangan tentang dosa yang dipupuk dengan indah menjadi senjata yang sangat kuat bagi setan untuk kembali menjerumuskan anak manusia.   Kenangan dan Mimpi   Ribuan kenangan yang pernah kita alami, itulah yang membentuk pola pikir dan cara pandang kita saat ini.   Tanyalah kepada masa depan, dari apakah ia terbentuk? Tentu ia akan menjawab, aku terbentuk dari kenangan dan…

Khianat

Sedih. Terasa sesak sekali dada ini bila melihat kenyataan pemilu di bangsa yang demokrasi ini. Kecurangan dan pengkhianatan tampak jelas di depan mata. Dan selalu saja diingkari oleh pendukungnya. Pembicaraan tentang pemilu selalu saya hindari. Sedih, marah, kecewa, selalu bercampur jadi satu saat tiba dalam pembicaraan tentang itu. Semakin nyata pilpres 2019 kali ini memprihatinkan; lebih dari 600 petugas pemilu wafat, dan 3000 yg masih terbaring sakit. Gelombang tsunami money politik yang bukan hanya oleh tim pemenangan tetapi juga aparat keamanan Sepanjang kampanye dan pungut suara banyak kejanggalan dan ketidakadilan yang terjadi, DPT bermasalah Kotak suara dari kertas yang gampang sekali hancur, 6.5 juta tidak memilih dan pengusiran serta intimidasi 02. Sulitnya perijinan, pemda memberikan tempat kampanye yang susah dijangkau. Dikumpulkannya instrumen kontrol / media. Ada upaya penggembosan suara 02 dengan kriminalisasi ulama, penangkapan cerdik pandai, bahkan dibentuknya Tim asistensi/Tik Tok yang dibentik Menkopolhukam. Sistem yang menyuguhkan kesalahan kesalahan itung…

Catatan Peserta Musyawarah Ulama dan Tokoh Nasional

Di Ruang Dwangsa, Hotel Lor In Solo, acara musyawarah ini dilaksanakan. Sabtu, 6 April 2019 H. Resolusi Musyawarah Ulama dan Tokoh Nasional, itulah hasilnya. Untuk menguatkan pakta integritas yang pernah ditandatangani oleh Bapak Prabowo pada ijtima ulama beberapa waktu yang lalu. Tapi bagaimanakah dinamika diskusi dan pembicaraan sebelum lahir resolusi itu? Inilah sedikit catatan yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini, sebagai salah satu peserta yang hadir dalam acara tersebut. Sebagai rakyat, kita mempunyai hak penuh, secara legal dan konstitusional, untuk memilih siapa pemimpin yang ia kehendaki. Melihat fakta dan fenomena yang ada dari media massa dan media sosial, masyarakat Indonesia sangat ingin ada perubahan kepemimpinan di negeri ini. Terbukti, sosialisasi dan kampanye pasangan 02 selalu ramai dengan ribuan bahkan ratusan ribu yang hadir, sementara 01 selalu sepi. Kalaupun ramai, banyak massa dari luar kota. Rakyat ingin #2019GantiPresiden. Hadirnya kesadaran umat ini tidak lepas dari peran para ulama sebagai pemimpin…

Butiran Air Dalam Gelombang

Saya tau, saya hanya sebutir pasir di tengah hamparan pasir manusia yang hadir kampanye 02 di Lapangan Banyu Anyar, Solo hari ini. Saya tak hadir pun sangat tidak ada masalah. Tetapi dalam skala global nasional, saya sangat sadar kehadiran saya sangat berharga. Sebab akan menambah jumlah penuntut perubahan kepemimpinan nasional. Menjadi penguat survey kompas bahwa rakyat ingin #2019GantiPresiden. Menjadi salah satu yang melagukan yel-yel: Indonesia Prabowo, Indonesia Sandiaga Uno Indonesia Prabowo, Indonesia Sandiaga Uno Indonesia Prabowo, Indonesia Sandiaga Uno Indonesia Prabowo, Indonesia Sandiaga Uno Inspirasi saya masih dari Ust Muin. Kagum dengan konsistensi beliau dalam memberikan perhatian atas permasalahan umat. Setiap aksi yang mengerahkan massa umat Islam, Ust. Muin selalu menjadi aktor penting di balik pengerahan massa itu, sekaligus menjadi orator yang membakar semangat massa dan selalu dinanti pandangan dan kata-katanya. Berkali-kali saya menemani Ust Muin menerima tamu dari kepolisian dan TNI, juga dari laskar-laskar Umat Islam, yang berkoordinasi tentang…

Navigate