Sosial Budaya

Oase Keimanan

Oase – Oase Keimanan Seperti orang yang berjalan jauh, ada saatnya kita berhenti sejenak. Dalam jenak perhentian itu, kita memerlukan nutrisi, bagi untuk fisik maupun hati. Ketika fisikmu yang lelah, maka tidurlah. Tapi ketika hati yang lelah, maka berisitirahatlah di sisi oase – oase keimanan ini. İnilah tradisi orang orang shaleh terdahulu. Berhenti sejenak dari rangkaian aktifitas, untuk merenungkan kembali hal hal penting di balik semua aktifitas ini. Empat oase keimanan ini semoga dapat menghilangkan dahaga dan mengembalikan semangat, saat kita mau meluangkan waktu untuk merenungkannya lebih dalam. Apa saja oase keimanan itu? Simak video berikut ini. Semoga bermanfaat https://youtu.be/RS00BnEJwGE •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• Jangan lupa klik like & subscribe •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• 25 Ramadhan 1441 H ========= duakhalifah.net

Perlombaan Paling Menantang

Seperti dalam pacuan kuda, saat yang paling penting adalah ketika mendekati finish. Di saat itu, setiap orang memacu kudanya dengan kencang untuk menjadi yang terbaik. Tetapi semua perlombaan itu akan bernilai tergantung hadiahnya dan tujuannya. Dalam perjalanan menuju Allah, adakah hadiah yang lebih indah daripada surga dan ridha Allah? Adakah yang lebih agung daripada derajat yang tinggi nan mulia di sisi Allah? Bersama berlari bersegera dalam kebaikan. İtulah obsesi utama orang beriman dalam hidupnya. Kalau mau bersegera dan berlomba, inilah saat dan tempat yang tepat… Yaitu perlombaan menuju surga. Simak video selengkapnya https://youtu.be/Q1ViJR-f8FM •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• Jangan lupa klik like & subscribe •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• 23 Ramadhan 1441 H ========= duakhalifah.net

Berburu Amal Terbaik

Jawabannya satu: ilmu! İtulah rahasia dari segala kebesaran, kejayaan, dan kesuksesan. Semua yang dilakukan tanpa ilmu tidak akan pernah kokoh dan mengakar. Sebaliknya, sesuatu yang biasa akan menjadi sangat hebat bila didasari oleh ilmu. Dalam amal pun seperti itu. Bersedekah misalnya. Mungkin sedikit nilainya. Tapi kalau dilakukan dalam keadaan yang tepat, di tempat yang tepat, dalam waktu tepat, maka hasilnya bisa dahsyat. Bahkan kebiasaan bisa menjadi ibadah bila disertai ilmu. Begitu pentingnya ilmu, ia sampai didahulukan daripada iman. Sebab untuk beriman harus berilmu terlebih dahulu. Ketika paham tentang ilmu amal dan amal ilmu, InsyaAllah amal kita melesat menjadi yang terbaik. Bagaimana penjelasannya? Simak video berikut ini. Semoga ada manfaatnya https://youtu.be/VrguOfViCkk •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• Jangan lupa klik like & subscribe •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• 22 Ramadhan 1441 H ========= duakhalifah.net

Ketika Malas Datang Menyapa

Ketika Malas Datang Menyapa Hanya dalam beberapa hitungan waktu, lalu tamu agung ini akan pergi dan kesempatan emas meraih pundi pahala berlipat ganda pun berakhir. Tapi entahlah. Rasa malas itu tiba-tiba menerpa dengan kencang. Tidak di dalam Ramadhan, tidak juga luar Ramadhan, saat malas itu datang, kita pun berhenti dan tidak bersemangat lagi. Lalu bagaimanakah cara kita berdamai dengan diri ini? Haruskah kita biarkan jiwa ini dikuasai oleh rasa itu? Berusaha bertemu dengan para guru dan sahabat yang saleh, membaca buku, mendengarkan nasehat online maupun offline menjadi bagian dari usaha keluar dari kemalasan itu. Tapi setelah itu, kalau tetap malas bagaimana? Simak video berikut ini. Semoga ada manfaatnya https://youtu.be/TnXRAkudy8w •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• Jangan lupa klik like & subscribe •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• 21 Ramadhan 1441 H ========= duakhalifah.net

Belajar Dari Umar bin Abdul Aziz

Belajar Dari Umar bin Abdul Aziz Zuhud, menahan dari dari hal hal yang tidak bermanfaat di akhirat, sangat sulit saat kita tidak punya apa. Tetap akan jauh lebih sulit saat memiliki segalanya. Itulah sebabnya, kata Imam Abu Sulaiman Ad Darani, Umar bin Abdul Aziz lebih zuhud dari Uwais al-Qarni. Sebab Umar bersikap zuhud saat dunia ada dalam genggamannya. Ingat mati dan rasa takut kepada Allah, itulah yang membuat sangat berani dan hati hati. Terlebih saat ia menjadi Khalifah. Ia menjadi orang paling miskin di puncak kekayaan; paling prihatin di puncak kejayaan. Ingat akhirat telah menjadi sumber kekuatannya yang tidak terbatas. Bagaimana kita bisa selalu menghadirkannya? Simak video berikut… Semoga bermanfaat https://youtu.be/-vQSMW_5LdY •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• Jangan lupa klik like & subscribe •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• 19 Ramadhan 1441 H ========= duakhalifah.net

Menguatkan Orientasi Akhirat

Menguatkan Orientasi Akhirat Sama seperti dalam sebuah perjalanan panjang, kadang kala kita harus transit. Apa yang dilakukan penumpang saat transit itu? Ada yang ke toilet, ada yang makan dan minum, ada yang jalan jalan di sekitar lokasi, ataupun ada yang sekedar selonjoran kaki. Apapun yang mereka lakukan, semuanya untuk kepentingan dan kenyamanan perjalanan selanjutnya. Pikiran mereka terfokus bagaimana sampai ke tujuan dengan selamat. Saat ini, kita adalah bagian dari penumpang itu. Sedang transit sejenak di dunia, siap siap melanjutkan perjalanan ke tujuan utama. Ya. Akhirat, itulah tujuan akhir kita. Bukan di sini. Di tempat transit ini. Kelak akan tiba saatnya kita harus melanjutkan perjalanan kembali. Yaitu  saat malaikat maut datang menjemput untuk pergi. Hakikat ini jangan sampai hilang dari benak dan hati. Sehingga kita lalai dan terbuai. Tiba saatnya berangkat, kita belum bersiap. Maka jadilah kita orang yang paling merugi. Lalu apa manfaatnya bila kita fokus pada hari akhir itu?…

Menyempurnakan Ibadah

Menyempurnakan Ibadah Apa artinya nawaitu shauma ghadin ? Ya. Saya berniat menahan diri besok. Itulah iqrar yang kita tekadkan sejak malam puasa. Menahan diri dari apa? Tingkatannya ada 3, kata Imam Al Ghazali: Menahan diri dari makan minum dan perkara yang membatalkan puasa… Menahan panca indera dari dosa… Menahan hati dari selain Allah… Lalu apa kabar puasa kita selama ini? Di tingkatan pertama, puasa kita sah sebab terpenuhi rukun dan syaratnya. Di tingkatan kedua, puasa kita InsyaAllah diterima, sebab bebas dari hal-hal yang membatalkan pahala. Sementara di tingkatan ketiga, semoga Allah menguatkan kita untuk mencapainya. Itulah tingkatan puasa para nabi dan wali. Dalam ibadah-ibadah wajib, penting berfikir dan berusaha untuk melakukannya dengan sempurna. Itulah cara terbaik kita mendekatkan diri kepadaNya. Sementara dalam ibadah Sunnah, semoga itu dapat menutupi kekurangan-kekurangan kita dalam memenuhi ibadah yang wajib. Tapi bagaimana cara menyeimbangkan antara keduanya? Simak video berikut ini Semoga ada manfaatnya… https://youtu.be/cW6PHG8H3cM •┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈•…

Berkah Teman Yang Shaleh

Berkah Teman Yang Shaleh Sekali ketemu, genggamlah ia dengan erat. Jangan sampai lepas. Sungguh ia adalah jawab doa doa kita mohon hidayah dan istiqamah. Ia adalah teman perjalanan penuh berkah. Ia teman yang melipur lara dan menghapus duka. Menghilangkan galau dan mengusir nestapa. Guru dan sahabat yang shaleh adalah karunia yang mahal dan tidak terhingga. Jagalah ia, jangan sampai hilang dari hidup kita. Apa tanda tandanya? Simak video berikut ini https://youtu.be/nPW9w_WWScc ┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• Jangan lupa klik like & subscribe ┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• 16 Ramadhan 1441 H ========= duakhalifah.net

Merapikan Jiwa Raga

Merapikan Jiwa dan Raga Siapa yang bisa jamin benih itu tidak akan tumbuh lagi? Bila dulu kita sempat salah, lalu akhirnya kita taubat, itu artinya kita telah memangkas tanaman dosa untuk tumbuh subur di halaman kehidupan kita. Tetapi siapa yang bisa jamin benih yang terlanjur tertabur dalam hati, dan akar dosa yang sempat tertancap dalam memori, tidak akan kembali mekar seperti dulu lagi? Ya. Kadang hanya butuh sebuah kondisi, atau terpancing sedikit kreasi, hingga benih yang tadi lama tertimbun kembali bereaksi. Lagi dan lagi. Dan akhirnya kita kembali mengulangi kesalahan dulu lagi. Mengapa bisa seperti itu? Itu karena ada nafsu yang bertengger dengan permanen dalam hati. Dalam setiap hembusan nafas, ia berontak dan ingin bebas, tanpa batas. Puasa adalah cara terbaik untuk merapikan batin yang tercabik-cabik nafsu, dan jiwa yang tersakiti oleh keinginan semu. Lahir dan batin kembali dirapikan, ditata, diatur, dan diarahkan. Bila akhirnya nafsu itu tumbuh subur, biarlah…

Nikmatnya Berbagi

Nikmatnya Berbagi Bahagia itu saat kita bisa membahagiakan orang lain. Merawat hati, menghapus duka, dan menghadirkan cinta, itulah tugas kemanusiaan yang paling dasar. Saat berbagi, itulah saat yang paling bermakna. Silahkan engkau punya ilmu dan harta tak terhingga. Namun ketika engkau tidak mau berbagi, engkau tidak berarti apa-apa! Sebab bukan karena jumlahnya, tapi karena manfaatnya. Maka rasanya kita perlu bertanya selalu, apalagi yang bisa aku berikan untuknya? Tapi bagaimana caranya? Dan bagaimana kalau kita sendiri dalam keadaan sempit, apa yang bisa kita lakukan? Simak video berikut ini… Semoga ada manfaatnya… https://youtu.be/InWDsjbW7GY ┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• Jangan lupa klik like & subscribe ┈┈••❁🍀🌹🍀❁••┈┈┈• 12 Ramadhan 1441 H

Navigate