Uncategorized

Belajar Dari Musashi

Sejak lama saya menuntaskan membaca novel 1247 halaman dengan ukuran kertas yang lumayan besar ini. Dengan file pdf di Netbuk. Bagi saya ini adalah sebuah rekor yang perlu saya syukuri dengan cara menuliskan hal hal yang paling mengesankan, dan pelajaran yang paling berharga. Inilah beberapa pelajaran mengesankan yang sempat saya tuliskan. Yang belum tertulis, tentu lebih banyak lagi Tokoh kita kai ini adalah Takezo, anak dari Munisai dari derah Shimmen, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Miyamoto Musashi. Ia adalah seorang ronin yang memutuskan memilih hidup menjadi Samurai dan menempuh hidup di Jalan Pedang. Cerita tentang Musashi adalah cerita tentang obsesi dan cita-cita hidup yang sangat tinggi. Cerita tentang keputusan besar yang dipilih oleh seorang prajurit yang kalah perang dengan kehidupan yang hampir-hampir lepas dan terhempas. Cerita tentang Musashi adalah cerita fokus pikiran dan rangkaian kedisplinan yang kuat dalam jangka waktu yang panjang. Sementara kisah-kisah lainnya yang berseliweran di buku…

Pondasi Akhlak Mulia

عن جندب بن عبد الله قال : ” كُنَّا غِلْمَانًا حَزَاوِرَةً مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَتَعَلَّمْنَا الْإِيْمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيْمَانًا، Dari Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibnu Majah) Hadits ini menujukkan perhatian Rasulullah yang sangat besar terhadap penguatan iman. Prinsipnya adalah adab sebelum ilmu, iman sebelum Al Quran. Iman ditanamkan dengan kuat sebelum memulai pembelajaran Al Quran, dan pembinaan adab lebih diutamakan sebelum memulai pembelajaran aneka ilmu pengetahuan. Tradisi pembinaan adab sebelum ilmu dapat menjadi prioritas ulama ulama terdahulu. Imam Abdullah bin Mubarak berkata, “Saya mempelajari adab selama 30 tahun, dan saya mempelajari ilmu selama 20 tahun. Demikianlah para ulama terdahulu belajar adab sebelum ilmu” Sebagian ulama berkata, “Adab…

Kasih Sayang, Adil, dan Ihsan

Diantara  nasehat guru kami, Ust. Mu’in, dalam rapat pimpinan yang sempat saya catat dan selalu saya ingat adalah: hendaklah setiap kita; guru, musyrif,  muhaffiz, dan seluruh pegawai, berlomba-lomba untuk dekat dengan santri, memberi perhatian dan pelayanan yang terbaik, dan melakukan pembimbingan dan pembinaan yang baik untuk kesuksesan mereka di pondok ini. Santri ibarat tanaman yang kita rawat dan pelihara, sementara alumni adalah buahnya. Bagaimana usaha kita merawat dan memeliharanya, begitulah yang akan tampak pada buahnya. Dan ukuran kesuksesan itu terlihat pada kedekatan alumni dengan almamaternya, dan kesetiaan mereka pada warisan pemikiran dan nilai nilai yang telah diajarkan. Bagaimana mewujudkannya? Dengan memperhatikan 5 nilai pendidikan: Ikhlas, Itqan, Ihsan, Ihtirom, dan Ihtimam. Ikhlas artinya beramal karena Allah, berusaha memberikan yang terbaik, menjadikan pondok ini sebagai tempat penerapan nilai-nilai Islam secara kaffah. Itqan artinya berusaha menyelenggarakan proses pendidikan yang terbaik, dengan standar mutu yang unggul, dan pengelolaan manajemen yang profesional. Ihsan artinya berusaha memberikan pelayanan…

Merindukan Pemimpin Yang Zuhud

Rasulullah bangun tidur tepat ketika Umar bin Khattab datang. Melihat kondisi Rasulullah saat itu, Umar tidak kuat menahan air matanya. “Mengapa engkau menangis, wahai Umar?” tanya Rasul “Lihatlah dirimu ya Rasullah. Berbaring di atas tikar yang kasar, sehingga bekas itu tampak jelas di pipimu. Sementara para raja dan kaisar berbaring di atas kasur yang sangat empuk (padahal engkau lebih agung dan mulia dari mereka)” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau tidak ridha, bagi mereka dunia dan bagi kita akhirat? Dalam hadits lain, Rasul berkata“Apa urusannya aku dan dunia? Aku tidak hidup di dunia kecuali seperti orang yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi berlalu meninggalkannya” Bila beliau mau, tentulah dunia ini dihamparkan di bawah kakinya. Tapi ternyata dunia dan segalanya isinya tidak terlalu penting dan berharga di mata beliau. Ada kehidupan yang lebih indah di sana, di ujung kemuliaan kita saat mendapatkan karunia surga. Di dunia ini, beliau lebih memilih untuk zuhud.…

Belajar Bersama Santri Bina Umat Yogyakarta

Hari Ahad, 27/1/2019, alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk bersama dengan para santri dan santriwati Pondok Pesantren Bina Umat Sleman Yogyakarta. Kelihatannya saya yang memberikan motivasi untuk menghafal Al Quran, kenyataannya sayalah yang termotivasi dari semangat mereka untuk menguatkan hafalan. Maka, di hadapan para santri yang bersemangat ini saya berbagi cerita tentang pengalaman menghafal Al Quran. Kenapa menghafal Al Quran? Sebab dengan itulah kita menjadi berarti di tengah alam semesta dan tata surya yang amat sangat luas ini. Menjadi mulia sebagai seorang penjaga kalamullah. Sebab hafalan Al Quran adalah pondasi yang sangat kuat untuk membangun istana keilmuan di atasnya. Lebih dari satu jam saya berbagai pengalaman menghafal Al Quran dan mengelola pondok tahfiz Al Quran selama beberapa tahun. Setiap mengisi kegiatan seperti, sesi tanya jawab bagi saya adalah saat yang paling menyenangkan. Dan para santri tampil dengan berani menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas. Berikut diantara pertanyaan yang disampaikan dan jawaban saya…

Navigate